Showing posts with label neurologi. Show all posts
Showing posts with label neurologi. Show all posts

Friday, April 25, 2014

Obat migraine terbaru , bekerja dengan mencegah bukan mengobati serangan

Kabar gembira bagi anda yang menderita migrain sebab saat ini telah ditemukan 2 jenis obat yang telah melewati fase eksperimental dan memberikan harapan baru bagi pencegahan migrain anda kambuh kembali. Tidak seperti obat yang telah ada yang hanya mengobati ketika serangan migrain muncul, obat ini bekerja dan ditujukan untuk mencegah serangan migrain kembali kambuh.

serangan-migraine

Migrain merupakan penyakit ketiga yang paling umum ditemukan di dunia namun pilihan terapi/obatnya termasuk yang paling buruk. Dr. Peter Goadsby, seorang professor neurosains klinik di King's College London dan University of California, merupakan salah seorang peneliti obat ini. Beliau berkata bahwa era baru terapi migrain telah tiba. Hal yang senada diaminkan koleganya Dr. David Dodick di Mayo klinik Arizona yang berkata bahwa selama ini hanya sedikit jenis terapi yang efektif dan dapat ditoleransi dengan baik untuk mencegah kekambuhan penyakit migrain.

Kedua Obat ini yakni ALD403 dan LY2951742, merupakan sejenis monoklonal antibodi ( kumpulan banyak kopi dari satu jenis antibodi tertentu ) yang bekerja dengan target protein spesifik yang dihasilkan sel saraf otak yakni CGRP atau calcitonin gene-related peptide (peptida terkait gen kalsitonin). CGRP ini merupakan protein yang dihasilkan sel neuron dan sangat penting dalam terjadinya migrain. Kedua obat ini merupakan obat pertama yang spesifik bekerja pada terget CGRP.

Pada tes yang dilakukan selama 24 minggu ALD403 berhasil menurunkan serangan migrain hingga 66 % pada163 penderita migrain sementara obat LY2951742 selama 12 minggu berhasil menurunkan serangan migrain hingga 63% pada 217 orang penderita migrain.

Tuesday, October 8, 2013

Status Konvulsivus

Status konvulsivus dalam hal ini yang dimaksud adalah status kejang umum (generalized tonic clonic status).

Definisi :
Keadaan klinik yang ditandai oleh serangan kejang terus menerus atau berulang dengan frekuensi sedemikian sering tanpa ada episode pulih diantara serangan.

Etiologi :
  1. Epilepsi primer.
  2. Epilepsi sekunder :
    - Lesi serebrovaskuler
    - Infeksi SSP
    - Neoplasma
    - Gangguan metabolik
    - Intoksikasi obat-obatan
    - Ketergantungan alkohol
    - Trauma kapitis
Pemeriksaan :
Bila perlu dan sarana memungkinkan :
  1. Laboratorium :
    - Kimia darah : Glukosa, ureum, kreatinin, fungsi hati.
    - Elektrolit : Magnesium, kalsium.
    - Kadar anti konvulsan.
    - Kadar gas arterial.
    - Likuor serebrospinal bila ada demam.
  2. Pemeriksaan radiologik : Foto kepala, CT scan kepala, MRI
  3. Pemeriksaan penunjang lain : ECG, EEG
Kriteria Diagnostik :
  1. Keadaan klinik yang ditandai oleh serangan kejang terus menerus atau berulang dengan frekuensi sedemikian sering, sehingga tanpa pulihnya kesadaran diantara serangan.
  2. Dianggap status konvulsivus apabial menunjukkan 3 serangan tonik-klonik berturut-turut atau lebih dalam kurun waktu sangat singkat atau episode berlangsung dalam 30 menit atau lebih.
Diferensial Diagnosis :
Kejang Psikogenik

Penatalaksanaan :
Urutan
Manajemen
 
I
- Awasi tanda-tanda vital.
- Pelihara jalan nafas, berikan oksigen.
- Observasi dan periksa neurologis.
II
- Siapkan 10 cc untuk pemeriksaan kimia darah :
   Glukosa, ureum, kreatinin, fungsi hati.
   Elektrolit (kalsium, magnesium).
   Kadar anti konvulsan.
   Kadar gas arterial.
- Infus larutan NaCl 0,9%.
- Bila terjadi hipoglikemi beri 50 ml glukosa 40% dan 100 mg thiamin atau sejenisnya.
- Berikan Diazepam 10 - 20 mg/iv perlahan-lahan. Dapat diulang sampai 3 kali dengan interval
   15-30 menit. Kemudian dapat dilanjutkan diazepam 2 - 4 amp/kolf 20 tts/menit.
- Bila masih tetap kejang 15 menit setelah pemberian Diazepam, berikan Phenytoin 20 mg/kgBB/iv yang dilarutkan dalam garam (NaCl) dengan kecepatan maksimal 50 mg/menit. Monitor tekanan darah dan EKG. Bila terjadi disritmia/hipotensi hentikan  sampai terjadi resolusi dan mulai dengan kecepatan rendah.
- Bila kejang menetap 10-20 menit setelah pemberian Phenytoin, tambahkan Phenytoin 10 mg/kgBB. Dosis maksimal 30 mg/kgBB.
- Bila Kejang berlanjut 30 menit atau lebih, konsul anastesi.
III
- Terapi etiologi.
- Terapi komplikasi.
- Bila terjadi edema serebri berikan anti edema misalnya deksametason sesuai protokol.
IV
- Perawatan Intensif.
- Terapi anti epileptik dosis pemeliharaan.
Komplikasi / Penyulit :
  • Gangguan serebral
  • Gangguan kardiovaskular
  • Gangguan pernafasan
  • Gangguan metabolik,dll

Prognosis :
Biasanya kejang dapat diatasi tetapi penderita harus tetap berobat secara teratur.

Lama Perawatan :
Sampai kejangnya teratasi, kesadaran pulih dan keadaan umum telah memungkinkan untuk berobat jalan.
  • Bila diagnosa adalah epilepsi primer dan telah tertanggulangi penderita dapat dipulangkan / berobat jalan dengan pengobatan anti kejang seperti penderita epilepsi lainnya.
  • Bila etiologi adalah epilepsi sekunder  dan telah ditanggulangi penderita dapat dipulangkan / berobat jalan.

Monday, October 7, 2013

Tetanus

Tetanus merupakan penyakit infeksi pada sistem saraf yang perlangsungannya akut dengan karakteristik spasme tonik persisten dan eksaserbasi singkat yang disebabkan oleh eksotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.
gejala-tetanus
gejala tetanus

Pemeriksaan

Anamnesis

Ada riwayat luka biasanya 5-14 hari disertai ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang (trismus) dan dapat disertai kejang.

Pemeriksaan Fisis
  • Trismus, risus sardonikus, opistotonus, spasme otot perut dan kejang otot.
  • Refleks fisiologis meningkat, refleks patologis negatif
  • Kadang-kadang ditemukan gangguan SSO antara lain retensi urin dan hiperpireksia.
Pemeriksaan Laboratorium
  • Darah rutin : Tidak dilakukan pada hari pertama.
Pemeriksaan Radiologik
  • Foto Thoraks : Bila ada tanda-tanda komplikasi paru.
Pemeriksaan Penunjang Lain
  • EKG : Jika ada tanda-tanda gangguan jantung.
Kriteria Diagnosis

Berdasarkan gambaran klinik
  • Spasme sekelompok otot sekitar luka (tetanus lokal)
  • Hipertoni dan spasme otot :
    - Nyeri sekitar luka,trismus (spasme otot mastikatorik), risus sardonikus (spasme otot fasialis).
    - Kaku kuduk sampai opistotonus (spasme otot erektor trunki).
    - Dinding perut tegang, anggota gerak spastik.
  • Kejang tonik dengan kesadaran tidak tergangggu.
  • Umumnya ada luka/riwayat luka
  • Dapat disertai retensi urin dan hiperpireksia
  • Dapat disertai kelainan saraf kranial.
Diagnosis Banding
  • Reaksi Diastonia
  • Tetani (e.c hipokalemia)
  • Meningitis
  • Rabies
  • Abses retropharingeal, abses gigi, subluksasi mandibula.
  • Kelainan psikogenik.
Penatalaksanaan
  • IVFD Dekstrose 5% : RL = 1 : 1 = 28 tts/mnt
  • Kausal :

    Anti toksin tetanus

    Serum Anti Tetanus (SAT) diberikan dengan dosis 20.000 IU/hari/IM selama 3-5 hari, sebelumnya dilakukan tes kulit.
    Human Tetanus Imunoglobulin (HTIG) diberikan dosis 3000 U/IM (single dose), cara pemberian : 250 U/2 jam/IM. Pada tetanus berat dapat diberikan hingga 6000 U/IM.

    Anti Biotik
    Diberikan selama 7 - 10 hari. Pilihan antibiotiknya antara lain (pilih salah satu) :

    Penisilin prokain (PP) dengan dosis 15 juta IU/6jam/IM atau 3 juta IU/12jam/IM. Jangan lupa sebelumnya dilakukan tes kulit. Sebaiknya PP dikombinasikan dengan Metronidazole 500 mg/8jam/IVFD.

    Ampisilin dengan dosis 1 gr/8 jam/IV, sebaiknya dikombinasi dengan Metronidazole 500 mg/8jam/IVFD.

    Eritromisin / Tetrasiklin 500 mg/6 jam/IV Oral.
  • Terhadap luka dilakukan perawatan dan pada luka tusuk dilakukan cross insisi.
  • Membatasi tindakan-tindakan yang bersifat merangsang indra pasien.
  • Posisi/ letak pasien penderita diubah-ubah secara periodik.
  • Simptomatis dan Suportif :

    Diazepam
    Setelah masuk RS segera diberikan Diasepam dengan dosis 10-20 mg/iv/per lahan-lahan (2-3 mg/menit). Dosis maintenance : 10 ampul = 100 mg/kolf (10 mg/kgBB/hari) diberikan perinfus atau secara continous iv infusion (syringe pump). Dapat ditingkatkan sampai kejang teratasi dengan dosis maksimal 12 mg/kgBB/hari.

    Setiap kejang diberikan bolus Diasepam 1 ampu/IV/3-5 menit, dapat diulangi setiap 15 menit sampai maksimal 3 kali pemberian, bil atak teratasi dirawat di ICU.

    Apabila penderita telah bebas kejang selama kurang lebih 48 jam maka dosis diasepam dapat diturunkan secara bertahap kurang lebih 10 % setiap 1-3 hari (tergantung keadaan). Segera setelah intake oral memungkinkan maka Diasepam diberikan peroral dengan frekuensi pemberian yang sering (setiap 3 jam).

    Untuk mengatasi spasme dan rigiditas dapat diberikan Chlorpromazine 25-50 mg/8 jam/IM atau Baclofen 10-20 mg/8 jam/per oral.

    Oksigen
    Pemberian oksigen dilakukan bila terdapat tanda-tanda hipoksia, distres pernafasan sianosis ataupun apnoe.

    Nutrisi
    Makanan yang diberikan TKTP dalam bentuk lunak, saring atau cair.
Profilaksis Tetanus
  • Untuk tipe luka ringan dan bersih diberikan Tetanus Toxoid 0,5 ml.
  • Untuk tipe luka berat atau mudah mendapat tetanus diberikan Tetanus Toxoid 0,5 ml disertai HTIG 250 unit.
  • Untuk tipe luka lama yang mudah mendapat tetanus atau perawatan yang tidak sempurna diberikan Tetanus Toxoid 0,5 ml disertai HTIG 500 unit.
Imunisasi
  • Sebelum KRS = TT1 05 CC/IM
  • TT2 dan TT3 masing-masing dengan interval waktu 4-6 minggu dari TT1.
Komplikasi / Penyulit
  • Pneumonia Aspirasi
  • Asfiksia
  • Atelektasis
  • Kardiomiopati
  • Fraktur Kompresi
Prognosis

Dubia tergantung jenis luka, masa inkubasi, onset periode, derajat trismus, tipe kejang, dsb.

Lama Perawatan

Sampai intake peroral terjamin dan mampu mandiri

Tuesday, October 1, 2013

Penyakit DEKOMPRESI

Penyakit dekompresi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam darah / jaringan akibat penurunan tekanan sekitar, dalam 24 jam setelah melakukan penyelaman.

Pemeriksaan :

  • Anamnesis : adanya riwayat melakukan penyelaman dalam 24 jam sebelum timbulnya gejala
  • Pemeriksaan Fisik : Adanya defisit neurologis dan atau gejala jantung, paru, dangastrointestinal setelah melakukan penyelaman.
  • Pemeriksaan Laboratorium : Darah rutin, urine rutin, kimia darah.
  • Pemeriksaan Radiologik : Foto kontras, CT scan bial diperlukan
  • Pemeriksaan penunjang lain.
Kriteria Diagnosis :
Gejala klinis muncul setelah melakukan penyelaman :

  1. Type I (pain only bends)
    - Nyeri terutama di daerah persendian
    - Kemerahan di kulit, gatal serta bengkak sekitar sendi
  2. Type II (serious decompression sickness)
    - Gejala Neurologis : hemiparesis, paraparesis, tetraparesis, gangguan sensiblitas, gangguan serebellar
    - Gejala Jantung dan Paru (chokes)
    - Gejala Gastrointestinal : mual, muntah, diare, hematemesis, melena.

Diagnosis Banding :
Stroke, Trauma SSP, Infeksi SSP, pada penyelam

Penatalaksanaan :
  1. Kausal : Segera terapi oksigen hiperbarik setelah diagnosis ditegakkan.
  2. Medika mentosa :
    - Koreksi cairan dan elektrolit.
    - Anti platelet : ASA 2 x 150 mg.
    - Kortikosteroid : 20 - 30 mg / 24 jam iv.
    - Gliserol (Bila kontraindikasi dengan steroid)
    - Digitalis (Bila ada indikasi)
    - Anti konvulsan (Bila ada indikasi).

Komplikasi / Penyulit :
  • Osteonekrosis disbarik
  • Keracunan oksigen

Prognosis :
Tergantng cepatnya mendapat terapi OHB , bisa sembuh sempurna, cacat fisik, meninggal.

Lama Perawatan :
5 hari (rawat inap)

Informed Consent :
Perlu bila mendapat terapi OHB (oksigen hiperbarik)

Monday, September 30, 2013

Sindrom Guillain Barre (GBS)

Sindrom Guillain Barre adalah suatu penyakit autoimun pada susunan saraf yang terjadi secara akut dan menyeluruh, terutama mengenai akar saraf dan urat saraf tepi, kadang-kadang mengenai saraf otak. Sering didahului oleh infeksi saluran pernafasan bagian atas dan saluran pencernaan.

Pemeriksaan :
  • EMNG : Kecepatan hantar saraf menurun, amplitudo menurun.
  • Laboratorium : Cairan serebrospinal menunjukkan disosiasi sitoalbuminik sesudah 1 minggu dari onset.
Kriteria Diagnosis :
  1. Kelumpuhan motorik akut / subakut jenis lower motor neuron yang bersifat progresif pada kedua tungkai dan atau keempat anggota gerak.
  2. Gangguan sensorik eksteroseptif sangat minimal.
  3. Hiporefleksia / Arefleksia.
  4. Dapat disertai gangguan nervi kranialis terutama N.VII
  5. Dapat didahului oleh demam karena infeksi atau penyakit lainnya ( mis : diare, pasca operasi, dll)
  6. Protein likuor meningkat, sel normal (disosiasi sitoalbuminik)
  7. Gambaran EMNG : kecepatan hantar saraf menurun.
Diagnosis Banding :
Demyelinating neuropathy lainnya.

Penatalaksanaan :
  1. UMUM :
    • Rawat ICU bila keadaan memburuk misalnya adanya gangguan pernafasan atau kardiovaskular yang dapat mengancam jiwa pasien.
    • Rehabilitasi medik : fisioterapi aktif setelah penderita stabil.
  2. KHUSUS , dapat dipilih :
    • Kortikosteroid : Dexametason i.v dosis awal 8-10 mg selanjutnya 4-5 mg/6 jam selama masa progresif, diberikan 7 s/d 14 hari kemudian diturunkan berangsur-angsur.
    • Bila fasilitas memungkinkan :
      1. Gamma globulin i.v dosis 0,4 gr/kgBB selama 5 hari atau
      2. Fresh Frozen Plasma Exchange, dianjurkan untuk GBS akut dengan kelemahan sedang sampai berat yang onsetnya tidak lebih dari 2 minggu. Volume pemberian 200 ml - 250 ml/kgBB dengan jumlah pemberian 3-5 kali.
Komplikasi / Penyulit :
  • Karena Penyakit : Terjadi progresivitas (kelumpuhan otot-otot nafas) dan infeksi saluran kemih.
  • Karena tindakan perawatan yang kurang cermat : Dekubitus, kontraktur, deep vein trombosis (DVT).
Prognosis / Hasil Akhir :
Sembuh atau meninggal

Lama Perawatan :
Minimal satu minggu

Saturday, September 28, 2013

Stroke

Stroke merupakan gejala dan atau tanda gangguan fungsi otak fokal maupun global yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung progresif atau menetap hingga dapat berakhir pada kematian, tanpa adanya penyebab lain selain dari gangguan vaskuler serta tanpa didahului trauma atau penyakit infeksi sebelumnya.
stroke-hemoragik-dan-iskemik
ilustrasi stroke hemoragik dan iskemik

Pemeriksaan
  • Anamnesis
    Defisit neurologis yang terjadi secara tiba-tiba saat sedang beraktifitas maupun istirahat, disertai kesadaran baik/terganggu, nyeri kepala/tidak, muntah/tidak, ada riwayat hipertensi (faktor resiko stroke lainnya). Selain itu ditanyakan pula lamanya (onset), serangan pertama atau berulang.
  • Pemeriksaan Fisik (Neurologis dan Internis)
    Ada defisit neurologis, hipertensi/hipotensi/normotensi, aritmia jantung.
  • Pemeriksaan Laboratorium
    Hb, hematokrit, hitung eritrosit, leukosit, hitung jenis lekosit, laju endap darah, kimia darah (glukosa, kolesterol, trigliserida, LDL, HDL, asam urat, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin) dan bila perlu : trombosit, waktu perdarahan, waktu bekuan, APTT, fibrinogen, Rumple leede, likuor serebrospinal, serta urin lengkap.
  • Pemeriksaan Radiologik
    CT scan kepala, bila perlu angiografi dan transcranial doppler, foto thoraks.
  • Pemeriksaan Penunjang Lain
    Skor strok Djoenaedi,skor Hasanudddin, EKG / ekokardiografi.

Kriteria Diagnosis

Diagnosis stroke ditegakkan atas dasar temuan klinis sesuai definisi tersebut di atas.
Diagnosis jenis (etiopatologis) stroke, lokasi dan perluasan lesi, serta DD lesi nonvaskular berdasarkan hasil CT Scan tanpa kontras :

a. Stroke Hemoragik ( Stroke perdarahan)
  1. Perdarahan intraserebral (ICD X No.161)
    - Ditemukan defisit neurologik fokal : deviasi konjugat, gangguan saraf kranial, hemiparesis/hemiplegia, refleks patologis, kejang fokal, atau gejala umum seperti perubahan kesadaran dan kejang umum.
    - Pada CT scan kepala ditemukan ada fokus hiperdens di dalam parenkim otak (merupakan diagnosa standar).
    - Total skor menurut skor stroke Djoenaedi ≥20 atau sistem skor cara lain (bila belum atau tidak dapat dilakukan CT Scan).
    - Perdarahan lobar dilakukan pemeriksaan angiografi untuk mencari AVM , aneurisma, dang nagioma (bila akan dilakukan tindakan operatif).
    - Menunjang diagnosis bila : ada hipertensi / riwayat hipertensi, laboratorium darah(kelainan faal hemostasis)
  2. Perdarahan subarakhnoidal (PSA)
    - Ditemukan tanda rangsang meningeal.
    - CT Scan kepala ditemukan gambaran hiperdens dalam ruang subarakhnoidal.
    - Bila ditemukan hal berikut dapat menunjang diagnosis yaitu : Perdarahan subhyaloid pada retina; kesadaran yang "up and down" dan kejang.
    - Total skor menurut skor Djoenaedi ≥20.
    - Arteriografi / angiografi serebral : AVM, aneurisma (bila direncanakan tindakan operatif.).
    - Laboratorium liquor serebrospinal berdarah (mikro/makroskopis), eritrosit ≥ 25.000 / mm3 (bila tidak dilakukan CT Scan kepala atau hasil CT Scan meragukan).

b. Stroke Iskemik
  1. Emboli serebral (ICD X No.1.63.4)
    - Ditemukan gejala/tanda defisit neurologis fokal.
    - CT Scan kepala menunjukkan adanya lesi hipodens dalam parenkim otak.
    - Bila ditemukan hal berikut dapat menunjang diagnosis : aritmia jantung/penyakit jantung/riwayat penyakit jantung; waktu kejadian saat beraktivitas; riwayat hipertensi/diabetes; ada faktor resiko stroke lainnya.
    - EKG /Ekhokardiografi menunjukkan adanya kelainan irama/katup atau kelainan jantung lainnya.
    - Laboratorium darah, bila ditemukan peningkatan enzim-enzim jantung dan faktor reuma.
    - Total skor menurut Djoenaedi ≤ 20 atau menurut sistem skor lainnya.
  2. Trombosis Serebral (ICD X No. 1.63.3)
    - Ditemukan gejala/tanda defisit neurologik fokal
    - CT Scan kepala ditemukan gambaran hipodens dalam parenkim otak.
    - Bila ditemukan hal berikut dapat menunjang diagnosis : Waktu kejadian saat istirahat (terutama saat bangun tidur pagi hari); gejala prodormal (TIA) dan / riwayat TIA; ditemukan / riwayat hipertensi/diabetes; faktor resiko stroke lainnya.
    - Total skor menurut "Djunaedi stroke score" adalah < 20 atau menurut sistem skor lainnya.

Diagnosis Banding
  • Tumor intrakranial
  • Kelainan metabolik
  • Serebritis / abses serebri
  • Trauma serebral (bila terjadi secara bersamaan)
  • Meningitis / ensefalitis / ensefalopati (bila terjadi bersamaan).

Penatalaksanaan / Terapi 

Penatalaksanaan Umum
  1. Posisi kepala 20 - 30 derajat bila kesadaran menurun, posisi lateral dekubitus kiri bila disertai muntah. Posisi baring dirubah setiap 2 jam yaitu terlentang, miring kiri, miring kanan silih berganti.
  2. Bebaskan jalan nafas dan ventilasi diusahakan adekuat. Bila ada indikasi berikan oksigen 1-2 liter per menit sampai hasil analisis gas darah menunjukkan PaO2 > 90 mmHg dan PaCO2 28-34 mmHg.
  3. Kandung kemih dikosongkan dengan kateterisasi intermiten steril (bila ada gangguan buang air kecil) atau pemasangan kateter kondom pada laki-laki atau kateter tetap yang steril maksimal 5-7 hari diganti, disertai latihan buli-buli.
  4. Tekanan darah yang tinggi jangan segera diturunkan dengan cepat kecuali pada kondisi khusus dan kelainan jantung (aritmia, infark miokard akut, dan gagal jantung akut).
  5. Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi.
  6. Nutiris peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik, bila tidak baik atau pasien tidak sadar, dianjurkan melalui pipa nasogastrik.
  7. Suhu badan yang tinggi harus segera dikoreksi.
  8. Keseimbangan cairan dan elektrolit : hindari cairan intravena yang mengandung glukosa; koreksi gangguan elektrolit.
  9. Klisma / pencahar diberikan bila obstipasi / retensio alvi, menurut kondisi pasien.
  10. Rehabilitasi dini dan mobilisasi bila tidak ada kontraindikasi.

Penatalaksanaan Komplikasi
  1. Kejang harus diatasi segera dengan diazepam / phenitoin iv sesuai protokol yang ada. Profilaksis kejang tidak direkomendasikan secara rutin.
  2. Ulkus stres : diatasi dengan antagonis reseptor H2.
  3. Pneumonia : tindakan rehabilitasi khusus dengan fisioterapi dada dan antibiotika berspektrum luas.
  4. Tekanan intrakranial yang meninggi diturunkan dengan salah satu atau gabungan berikut ini :
    - Manitol bolus 1 g/kg BB dalam 20-30 menit kemudian dilanjutkan dengan dosis 0,25 - 0,5 g/kgBB setiap 6 jam selama maksimal 48 jam, lalu diturunkan perlahan-lahan (tappering off). Osmolalitas 300 - 320 mOsm/L.
    - Gliserol 50 % oral 025 - 1 g/kgBB setiap 4-6 jam atau Gliserol 10% dalam 0,9% NaCl, perinfus dengan dosis 10 ml/kgBB dalam 3-4 jam.
    - Intubasi dan hiperventilasi mekanis sampai PaCO2 = 25 - 30 mmHg.
    - Steroid tidak digunakan secara rutin
    - Bila diperlukan (hipoalbuminemia) dapat digunakan albumin 20 -50% (human albumin).

Penatalaksanaan Kondisi Khusus
  1. Hipertensi
    Penurunan tekanan darah pada stroke fase akut hanya bila terdapat salah satu di bawah ini :
    - Penurunan tekanan darah maksimal 20% kecuali pada kondisi ke 4, diturunkan sampai batas hipertensi ringan / sebelum stroke.
    - Obat yang dirokemendasikan : golongan alfa blocker (labetolol), ACE inhibitor dan antagonis kalsium.
    - Bila diastolik lebih dari 140 mmHg pada dua kali pengukuran selang 5 menit, dapat diturunkan dengan nitrogliserin drips dengan pemantauan tekanan darah secara kontinyu.
  2. Hipotensi
    Harus dikoreksi sampai normal/ hipertensi ringan dengan dopamin drips dan diobati penyebabnya (gangguan fungsi jantung / emboli paru / hipovolemia ) dan kerjasama bagian penyakit dalam.
  3. Hiperglikemia
    Harus diturunkan hingga GDS : 100 - 150 mg% dengan insulin iv scara sliding scale setiap 6 jam (5 unit RI / kenaikan 50 mg%) selama 2-3 hari pertama. Selanjutnya diobati bersama sub bagian endokrin.
  4. Hipoglikemia
    Harus diatasi segera dengan dekstrose 40% iv sampai normal dan penyebabnya diobati.
  5. Hiponatremia
    Dikoreksi dengan larutan natrium misalnya NaCl 20%.

Penatalaksanaan Spesifik
  1. Perdarahan intraserebral

    Konservatif :
    - Memperbaiki faal hemostasis : asam traneksamat 1 gram per 6 jam interval ( bila ada gangguan faal hemostasis).
    - Mencegah/mengatasi vasospasme otak akibat perdarahan : Nimodipine 30 mg.

    O
    peratif:
    - Dilakukan pada kasus yang indikatif / memungkinkan.
  2. Perdarahan Subarakhnoidal
    - Nimodipine
    - Sama dengan pada perdarahan intraserebral
    - Operatif : kliping aneurisme sakular (Berry) yang pecah bila sarana tersedia.
  3. Iskemik Serebral
    Pada fase akut (12 jam pertama) dapat diberikan :
    - Pentoksifilin infus dalam cairan Ringer Laktat dosis 8 mg/kgBB/hari.
    - Aspirin 80 mg per hari secara oral 48 jam pertama setelah onset.
    - Dapat dipakai neuroprotektor : piracetam, citicholine, nimodipine.

    Pasca fase akut :
    - Pentoksifilin tablet 2 x 400 mg
    - ASA dosis rendah 80 - 325 mg/hari
    - Neuroprotektor

    Pencegahan sekunder :
    - ASA dosis rendah 80 - 325 mg/hari.
    - Ticlopidin 2 x 250 mg.
    - Kombinasi ASA dan Tiklopidine.
    - Pengobatan faktor resiko stroke yang ada.

Komplikasi / Penyulit
  1.  Bila perawatan dan fisioterapi tidak adekuat :
    - Pneumonia baringan
    - Kontraktur
    - Dekubitus
  2. Karena penyakit sendiri :
    - Stroke baru / susulan pada saat perawatan
    - Infark hemoragik (transformasi dari infark otak)

Prognosis 
  • Stroke perdarahan : Meninggal, sembuh dengan cacat, sembuh.
  • Stroke Iskemik : Sembuh, sembuh dengan cacat atau meninggal.

Lama Perawatan 
  • Stroke perdarahan rata-rata 3-4 minggu (tergantung keadaan umum penderita)
  • Stroke iskemik : 2 minggu bila tidak ada penyulit/penyakit lain.

Saturday, June 7, 2008

DEMENSIA PADA PENYAKIT ALZHEIMER

Demensia merupakan istilah umum untuk berbagai penyakit dan kondisi yang menyebabkan hilangnya memori yang progresif dan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas harian. Penyakit ini merupakan penyakit dengan penurunan kemampuan kerja dari otak. Istilah demensia meliputi gejala-gejala seperti : gangguan dalam berfikir, menilai, berbahasa dan kemampuan dalam melakukan aktivitas harian secara normal. Demensia juga dikaitkan dengan masalah-masalah emosional dan perilaku, seperti : depresi, kecemasan, halusinasi, paranoia dan tingkah laku sosial yang tidak patut seperti sumpah serapah, menimbun barang-barang, berkelana dan pola tidur yang berubah.
demensia-pada-alzheimer's-disease

Demensia terdiri dari gejala-gejala gangguan kognitif global yang tidak disertai gangguan derajat kesadaran, akan tetapi bergandengan dengan perubahan tabiat yang dapat berkembang secara mendadak atau sedikit demi sedikit pada tiap dari semua golongan usia, terutama dari golongan usia yang tua. Demensia sendiri harus dibedakan dari proses menua yang normal. Pada proses menua normal, pasien mungkin mengalami gangguan fungsi kognitif tetapi tidak progresif dan tidak menyebabkan gangguan fungsi pekerjaan dan sosial.

Pasien dengan demensia biasanya nanti dibawa ke rumah sakit oleh keluarga, pengasuh atau polisi bila mengeluh pasien telah berkeliaran, bingung, perilaku yang tak wajar, agresif, depresif, cemas dan perilaku yang didorong wahamnya.

Penyebab paling umum dari demensia adalah penyakit Alzheimer yang merupakan dua per tiga dari keseluruhan kausa demensia. Penyakit Alzheimer merupakan penyakit dengan onset yang lambat dan gradual. Pertama kali menyerang bagian otak yang mengontrol memori dan selanjutnya bagian otak lain yang mengatur fungsi intelektual, emosional dan tingkah laku, sehingga seringkali disertai sindrom-sindrom perilaku seperti psikosis, agitasi dan depresi.

Penyakit Alzheimer ini biasanya timbul antara umur 50 dan 60 tahun. Terdapat degenerasi korteks yang difus pada otak di lapisan-lapisa luar terutama di daerah frontal dan temporal. Atropi ini dapat dilihat pada pneumo-ensefalogram dimana tampak sisterna ventrikel membesar serta banyak hawa di ruang subarakhnoid (giri mengecil dan sulkus-sulkus melebar).

EPIDEMIOLOGI

Penyakit Alzheimer mengenai sekitar 5 juta orang di Amerika Serikat dan lebih dari 30 juta orang di seluruh dunia. Peningkatan jumlah penderita penyakit Alzheimer di negara-negara industri adalah seiring dengan peningkatan angka harapan hidup usia tua yang kian pesat di negara-negara tersebut.
frekuensi-demensia-di-seluruh-dunia
frekuensi-demensia-di-seluruh-dunia

Beberapa hal yang berkaitan dengan epidemiologi :

a. Faktor Demografi

Insiden demensia meningkat sesuai umur, dimana mengenai 15-20 % individu di atas usia 65 tahun, dan 45 % di atas usia 80 tahun. Berdasarkan gender, terdapat perbedaan frekuensi etiologi dimana untuk pria terdapat angka yang tinggi untuk demensia yang disebabkan oleh kelainan vaskular dibanding yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer. Secara keseluruhan frekuensi demensia adalah sama pada wanita dan pria, meski beberapa studi menunjukkan bahwa resiko untuk terkena Alzheimer adalah lebih tinggi pada wanita dibanding pria oleh karena hilangnya efek neurotropik dari estrogen pada wanita di usia menopause.

b. Tren

Secara dramatis, peningkatan angka harapan hidup juga meningkatkan angka penyakit demensia. Mereka yang memiliki keluarga dekat yang menderita demensia, memiliki kecendruangan lebih tinggi untuk terkena demensia dibandingkan populasi lainnya. Dan mereka yang menderita Down Syndrome cenderung untuk terkena Demensia Alzheimer suatu saat nanti.

GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang berkaitan dengan defisit kognitif multipel antara lain :
  1. Gangguan memori, termasuk ketidakmampuan untuk mempelajari informasi yang baru atau me-recall informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
  2. Gangguan berbahasa (aphasia).
  3. Gangguan dalam kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik meskipun fungsi organ motorik masih utuh (apraxia).
  4. Gangguan dalam mengenali objek, meskipun fungsi organ sensorik masih utuh. (agnosia).
  5. Gangguan dalam kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasikan, berpikir sekuensial dan abstrak (gangguan fungsi eksekutif).
Dalam perjalanannya, penyakit Alzheimer dapat dibagi dalam 3 fase meliputi :

1. Fase awal (Ringan)

Pada tahap ini pasien mulai mengalami kehilangan memori maupun fungsi kognitif lainnya, tapi pasien masih dapat mengkompensasinya dan masih dapat berfungsi secara normal dan independen dengan sedikit pertolongan. Sikap apati dan kecenderungan menarik diri yang merupakan gambaran di semua fase, mulai timbul di fase ini. Ciri-cirinya :

a. Gangguan Kognitif dan memori :
  • Bingung, lupa nama dan kata-kata dan menghindar berbicara untuk mencegah kesalahan.
  • Mengulang pertanyaan dan kalimat.
  • Lupa kisah hidup mereka sendiri dan peristiwa yang baru terjadi.
  • Kurang mampu untuk mengorganisasikan dan merencanakan sesuatu serta untuk berpikir logik.
  • Menarik diri dari lingkungan sosial dan tantangan-tantangan mental.
  • Disorientasi waktu dan tempat ; dapat tersesat di tempat-tempat yang familiar.
b. Gangguan berkomunikasi mulai timbul :
  • Mulai mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri mereka sendiri.
  • Kadang tidak mampu untuk berbicara dengan benar meski masih dapat berespon dan bereaksi terhadap apa yang dikatakan kepada mereka ataupun terhadap humor yang dilontarkan.
  • Mengalami kesulitan untuk memahami bahan bacaan
  • Perubahan kepribadian mulai timbul :
  • Apatis, menarik diri dan menghindari orang lain.
  • Cemas, agitasi dan iritabel.
  • Tidak sensitif terhadap perasaan orang lain
  • Gampang marah terhadap hal-hal yang mendatangkan frustasi, rasa lelah, ataupun kejutan.
d. Perilaku yang aneh mulai timbul :
  • Mencari dan menimbun benda-benda yang tidak berharga.
  • Lupa makan secara teratur ataupun hanya makan satu jenis makanan saja.
2. Fase menengah (Sedang)

Gambaran utama dari fase ini adalah penurunan fungsi dari berbagai sistem tubuh pada saat yang bersamaan dan membuat ketergantungan pada orang lain yang merawat menjadi meningkat. Gangguan kognitif dan memori makin memberat, kepribadian mulai berubah dan masalah-masalah fisik mulai meningkat. Muncul sikap agresif, halusinasi dan paranoid.

Ciri-cirinya :

a. Gangguan Kognitif dan memori yang signifikan:
  • Lupa kisah hidupnya sendiri dan peristiwa yang baru terjadi..
  • Mengalami kesulitan untuk mengingat nama dan wajah teman dan keluarga. Tapi masih dapat membedakan wajah yang familiar dengannya dari yang tidak dikenalnya.
  • Masih mengingat nama sendiritapi kesulitan untuk mengingat alamat dan nomer telefon..
  • Tidak dapat berpikir logik secara jernih. Tidak dapat mengatur pembicaraan mereka sendiri
  • Tidak dapat lagi mengikuti instruksi oral maupun tulisan. Masalah keuangan dan aritmetika semakin meningkat..
  • Terputus dari realitas. Tidak mengenal diri sendiri di depan cermin dan dapat menganggap suatu cerita di televisi sebagai suatu kenyataan..
  • Disorientasi cuaca, hari dan waktu..
b. Gangguan berkomunikasi :
  • Mengalami kesulitan dalam berbicara, memahami, membaca dan menulis.
  • Mengulang-ulang cerita, kata-kata, pertanyaan dan bahasa tubuh.
  • Masih dapat membaca tapi tidak berespon dengan tepat terhadap materi bacaannya.
  • Kesulitan menyelesaikan kalimat
c. Perubahan kepribadian mulai signifikan :
  • Apatis, menarik diri, curiga, paranoid (seperti menuduh pasangan berhianat atau anggota keluarga ada yang mencuri).
  • Cemas, agitasi dan iritabel, agresif dan mengancam
  • Halusinasi dan delusi muncul. Dapat melihat, mendengar, mencium dan mengecap sesuatu yang tidak nyata.
d. Perilaku aneh yang timbul :
  • Perilaku seksual yang menyimpang (seperti : menganggap orang lain sebagai pasangannya dan bermasturbasi di depan umum)
  • Berbicara sendiri. (hampir sepertiga hingga setengah penderita alzheimer berbicara sendiri)
  • Perubahan siklus tidur yang normal ( terjaga sepnajang malam, tidur sepanjang siang)
e. Peningkatan dependensi :
  • Dapat makan sendiri, tapi butuh bantuan untuk makan dan minum yang cukup
  • Membutuhkan bantuan untuk berpakaian yang sesuai dengan cuaca atau situasi
  • Membutuhkan bantuan untuk menyisir rambut, mandi, sikat gigi, dan menggunakan toilet.
  • Tidak dapat lagi ditinggalkan sendiri dengan aman (dapat meracuni diri sendiri, membakar diri sendiri).
f. Penurunan kontrol sadar :
  • Inkontinensia uri dan feses.
  • Tidak merasa nyaman duduk di kursi atau di toilet.

3. Fase Lanjut (Berat)

Pada fase ini dapat dijumpai kemunduran kepribadian, gejala kognittif dan fisik memberat. Tingkah laku yang liar di fase awal perkembangan penyakit berubah menjadi lebih tumpul. Beberap ciri khasnya :

a. Kognitif dan memori yang makin memburuk :
  • Tidak mengenali lagi orang yang familiar, termasuk istri dan anggota keluarga yang lain.
b. Kemampuan komunikasi benar-benar lenyap :
  • Tampak merasa tidak nyaman. Tapi dapat berteriak bila disentuh ataupun bergerak.
  • Tidak mampu untuk tersenyum dan berkata-kata, atau berbicara cengan inkoheren.
  • Tidak dapat menulis dan memahami material bacaan.
c. Kontrol sadar terhadap tubuh hilang :
  • Tidak dapat mengontrol gerakan, otot-otot terasa kaku.
  • Inkontinensia urin dan fecal komplit.
  • Tidak dapat berjalan, berdiri, sit up, ataipunmengangkat kepala tanpa bantuan orang lain.
  • Tidak dapat menelan makanan dengan mudah, sering tersedak .
d. Dependensi komplit terhadap orang lain :
  • Membutuhkan bantuan di segala aktivitas hidupnya.
  • Membuthkan perawatan sepanjang waktu.
e. Penurunan dearajat kesehatan yang bermakna :
  • Sering terjadi infeksi, kejang-kejang, penurunan berat badan, kulit menjadi tipis dan gampang luka serta adanya refleks-refleks abnormal.
f. Tubuh melemah :
  • Menolak makan atau minum, berhenti kencing, tidak dapat berespon terhadap lingkungan.
  • Hanya dapat merasakan dingin dan rasa tidak nyaman, serta hanya berespon minimal terhadap sentuhan.
  • Kelelahan dan tidur yang berlebihan.
  • Organ-organ sensoris tidak berfungsi lagi ; bila organ sensoris masih berfungsi, otak tidak mampu menerima input.
g. Perubahan kepribadian :
  • Apatis, menarik diri.
  • Kepribadian yang tumpul.
h. Perilaku yang aneh :
  • Menyentuh sesuatu benda berulang-ulang.

PATOFISIOLOGI

Patologi anatomi dari Penyakit Alzheimer meliputi dijumpainya Neurofibrillary Tangles (NFTs), plak senilis dan atropi serebrokorteks yang sebagian besar mengenai daerah asosiasi korteks khususnya pada aspek medial dari lobus temporal.
perbandingan-otak-normal-dengan-alzheimer's
perbandingan otak normal dengan alzheimer's
Meskipun adanya NFTs dan plak senilis merupakan karakteristik dari Alzheimer, mereka bukanlah suatu patognomonik. Sebab, dapat juga ditemukan pada berbagai penyakit neurodegeneratif lainnya yang berbeda dengan Alzheimer, seperti pada penyakit supranuklear palsy yang progresif dan demensia pugilistika dan pada proses penuaan normal. Distribusi NFTs dan plak senilis harus dalam jumlah yang signifikan dan menempati topograpfik yang khas untuk Alzheimer. NFTs dengan berat molekul yang rendah dan terdapat hanya di hippokampus, merupakan tanda dari proses penuaan yang normal. Tapi bila terdapat di daerah medial lobus temporal, meski hanya dalam jumlah yang kecil sudah merupakan suatu keadaaan yang abnormal.

Selain NFTs dan plak senilis, juga masih terdapat lesi lain yang dapat dijumpai pada Alzheimer yang diduga berperan dalam gangguan kognitif dan memori, meliputi :
  1. Degenerasi granulovakuolar Shimkowich 
  2. Benang-benang neuropil Braak , serta 
  3. Degenerasi neuronal dan sinaptik.
Berdasarkan formulasi di atas, tampak bahwa mekanisme patofisiologis yang mendasari penyakit Alzheimer adalah terputusnya hubungan antar bagian-bagian korteks akibat hilangnya neuron pyramidal berukuran medium yang berfungsi sebagai penghubung bagian-bagian tersebut, dan digantikan oleh lesi-lesi degeneratif yang bersifat toksik terhadap sel-sel neuron terutrama pada daerah hipokampus, korteks dan ganglia basalis. Hilangnya neuron-neuron yang bersifat kolinergik tersebut, meneyebabkan menurunnya kadar neurotransmitter asetilkolin di otak. Otak menjadi atropi dengan sulkus yang melebar dan terdapat peluasan ventrikel-ventrikel serebral.

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

Penyebab dari Alzheimer masih belum diketahui secara pasti, tapi perpaduan berbagai faktor resiko diduga sebagai penyebabnya. Faktor-faktor tersebut antara lain :
  • Bertambahnya usia, riwayat keluarga yang positif, dan cedera kepala.
  • Toksin dari lingkungan.
  • Gaya hidup dan diet yang tidak sehat
  • Stres, kecemasan dan sikap pesimis yang berlebihan.
  • Genetik :
    - Lipoprotein E-epsilon 4 yang rapuh dan gampang mengalami mutasi.
    - Protein prekursor amiloid (APP) pada kromosom 21.
    - Trisomi kromosom 21 (down’s syndrom). Pasien dengan sindrom down cenderung terkena alzheimer onset dini pada usia di atas 30 tahun.
    - Gen presenilin I yang terdapat di kromosom 14. Mutasi pada gen inilah yang berkaitan erat dengan Alzheimer familial.
    - Gen presenilin II pada kromosom 1. Mutasi pada gen ini berkaitan erat dengan penyakit Alzheimer yang terjadi pada penduduk di daerah sungai Volga, Rusia.

PEDOMAN DIAGNOSIS

Pasien kemungkinan terkena demensia akibat Penyakit Alzheimer bila memenuhi kriteria untuk demensia dan memiliki perjalanan penyakit yang gradual dan bertahap. Meskipun untuk diagnosis yang pasti haruslah dengan konfirmasi secara histopatologi atau melalui pemeriksaan postmortem, kriteria berikut ini cukup memadai untuk menegakkan diagnosis.

Berdasarkan PPDGJ – III pedoman diagnostik untuk demensia :
  • Adanya penurunan kemampuan daya ingat dan daya piker yang sampai mengganggu kegiatan harian seseorang (personal activities of daily living) seperti : mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, buang air besar dan kecil.
  • Tidak ada gangguan kesadaran (clear consciousness)
  • Gejala dan disabilitas sudah nyata untuk paling sedikit 6 bulan.
Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer (F00.) :
  • Terdapatnya gejala demensia
  • Onset bertahap (insidious onset) dengan deteriorasi lambat. Onset biasanya sulit ditentukan waktunya yang persis, tiba-tiba orang lain sudah menyadari adanya kelainan tersebut. Dalam perjalanan penyakitnya dapat terjadi suatu taraf yang stabil (plateau) secara nyata.
  • Tidak adanya bukti klinis, atau temuan dari pemeriksaan khusus yang menyatakan bahwa kondisi mental itu dapat disebabkan oleh penyakit otak atau sistemik lain yang dapat menimbulkan demensia (misalnya hipotiroidisme, hiperkalsemia, defisiensi vitamin B12, defisiensi niasin, neurosifilis, hidrosefalus bertekanan normal, atau hematoma subdural).
  • Tidak adanya serangan apoplektik mendadak, atau gejala neurologik kerusakan otak fokal seperti hemiparesis, hilangnya daya sensorik, defek lapangan pandang mata, dan inkoordinasi yang terjadi dalam masa dini dari gangguan itu (walaupun fenomena ini di kemudian hari dapat bertumpang tindih).
Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer Onset Dini (F00.0) :
  • Demensia yang onsetnya di bawah 65 tahun
  • Perkembangan gejala cepat dan progresif (deteriorasi)
  • Adanya riwayat keluarga yang berpenyakit Alzheimer yang merupakan faktor yang menyokong diagnosis tetapi tidak harus dipenuhi.
Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer Onset Lambat (F00.1) :
  • Sama tersebut di atas, hanya onset sesudah 65 tahundan perjalanan penyakit yang lamban dan biasanya dengan gangguan daya ingat sebagai gambaran utamanya.
Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer, tipe tak khas atau campuran (atypical atau mixed type) (F00.2) :
  • Yang tidak cocok dengan untuk F00.0 atau F00.1 Tipe campuran adalah Demensia Alzheimer + Vaskuler.
Selain itu , untuk yang tidak terklasifikasikan digolongkan dalam penyakit Alzheimer YTT (F00.9).

DIAGNOSIS BANDING

Demensia harus dibedakan dari proses menua normal, delirium dan depresi. Pada proses menua biasa, pasien mungkin mengalami gangguan fungsi kognitif, tetapi tidak progresif dan tidak menyebabkan gangguan fungsi pekerjaan dan sosial. Pada delirium, onsetnya cepat, akut dan seringkali dengan kesadaran yang naik turun. Meskipun demikian, pasien dengan demensia seringkali gejalanya bertumpang tindih dengan delirium dan depresi. Berikut perbandingan demensia, delirium, dan depresi dengan gangguan kognitif (pseudodemensia) :
Gambaran Demensia Delirium Pseudodemensia
Umur Biasanya lansia Tak spesifik Tak spesifik
Riwayat Kronik Akut Gangguan afek
Awal Lambat laun Cepat Samar
Lamanya Berbulan-bulan/bertahun-tahun Berhari-hari/berminggu-minggu Berhari-hari/berminggu-minggu
Perjalanan Kronik progresif Naik turun Cepat
Taraf Kesadaran Normal Naik, turun Distres
Orientasi Intak pada awalnya Terganggu, periodik Apatis
Afek Labil tapi tidak cemas Cemas dan iritable Depresi
Alam pikiran Turun jumlahnya Sering terganggu Turun jumlahnya
Daya ingat Jangka pendek dan panjang terganggu Jangka pendek terganggu Agak terganggu
Persepsi Halusinasi jarang (kecuali fase berat) Halusinasi (terutama visual) Kadang-kadang
Psikomotor Normal (kecuali fase berat) Retardasi, agitasi atau campuran Apatis
Tidur Sedikit terganggu Terganggu Terganggu
Atensi dan kesadaran Sedikit terganggu Amat terganggu Apatis
Reversibilitas Umumnya ireversibel Sering reversibel Reversibel
Demensia pada Alzheimer juga berbeda dengan demensia akibat kelainan vaskuler, dimana pada kelainan vaskuler akan disertai gejala fokal (seperti defisit fungsi sensoris dan motoris fokal) pada tahap yang dini.

TERAPI

Pendekatan terapi pada penyakit Alzheimer didasarkan pada teori yang berkembang sesuai patogenesis dan patofisiologis penyakit dan kebutuhan untuk memperbaiki gejala-gejala kognitif dan tingkah laku yang mengalami gangguan, meskipun hingga saat ini belum ada terapi yang benar-benar secara meyakinkan mencegah Alzheimer ataupun memperlambat perjalanannya.

Terapi medis untuk Alzheimer meliputi :

Obat-obatan Psikotropik dan intervensi perilaku

Berbagai intervensi farmakologis dan perilaku dapat memperbaiki gejala klinik penyakit Alzheimer, seperti : kecemasan, agitasi dan perilaku psikotik, yang memang pendekatan terbaiknya adalah secara simptomatis saja. Obat-obatan ini sangat berguna meski keefektifannya sedang dan bersifat sementara saja dan tidak mampu untuk mencegah perkembangan penyakit dalam jangka waktu yang lama.

Intervensi perilaku meliputi pendekatan patient centered ataupun melalui pelatihan tenaga yang siap memberikan bantuan perawatan terhadap pasien. Intervensi-intervensi ini dikombinasikan dengan farmakoterapi seperti penggunaan anxiolytic untuk anxietas dan agitasi, neuroleptik untuk keadaan psikotiknya dan anti depressan untuk keadaan depresinya.

Beberapa obat psikotik yang dianjurkan untuk digunakan oleh banyak praktisi adalah : haloperidol, risperidone, olanzapine dan quetiapine. Obat-obatan ini diberikan dalam dosis minimal yang masih efektif untuk meminimalisir efek samping, oleh karena sebagian besar pasien adalah mereka yang berusia lanjut.

Cholinesterase Inhibitors (ChEIs)

Strategi yang digunakan secara luas untuk mengatasi gejala-gejala alzheimer adalah mengganti kehilangan neurotransmitter asetilkolin di korteks serebri. Seperti diketahui, pada penyakit Alzheimer terdapat kehilangan yang substansial dari asetilkolin, penurunan jumlah enzim asetiltransferase (enzim untuk biosintetis asetilkolin) dan hilangnya neuron-neuron kolinergik di daerah subkortikal (nukleus basalis dan hippokampus).yang memiliki serabut projeksi ke korteks.

Observasi ini menghasilkan teori bahwa manifestasi klinis dari alzheimer timbul sebagai akibat dari hilangnya persarafan kolinergik ke korteks serebri. Akibatnya, dikembangkanlah berbagai senyawa yang mampu menggantikan defek kolinergik ini dengan cara mengintervensi proses degradasi asetilkolin oleh asetilkolinesterase sinaptik (spesifik), ataupun oleh asetilkolinesterase non sinaptik (non spesifik) yang sering disebut sebagai butyrylkolinesterase (BuChE).

Obat-obatan yang dianjurkan diantaranya adalah tacrine (cognex), donepezil (aricept), rivastigmine (exelon) dan galantamine (reminyl). Hanya tacrin dan rivastigminlah yang juga menghambat BuChE. Hal ini penting untuk kemanjuran terapi, sebab dalam perjalanan penyakit Alzheimer, BuChE akan meninggi dan di sintesis oleh berbagai lesi Alzheimer termasuk oleh plak senilis. Efek obat-oabtan ini antara lain : (1) Memperbaiki fungsi kognitif pada fase yang lanjut (2) Memperbaiki gangguan perilaku (3) Menolong pasien dengan demensia akibat gangguan vaskuler yang sering muncul bersamaan dengan Alzheimernya.

Obat-obatan ini hanya berefek sementara sebab tidak memperbaiki penyebab dasar dari hilangnya asetilkolin di korteks, yakni degenerasi neuron yang tetap berlangsung secara progresif.

Antagonis N-methyl-D-aspartate (NMDA)

Merupakan obat generasi baru yang amat berguna pada Alzheimer fase lanjut. Kombinasi dengan asetilkolinesterase inhibitor terbukti lebih manjur. Mamantine adalah contoh obat golongan ini, yang juga dapat digunakan untuk keadaan neurodegeneratif lainnya seperti huntington disease, demensia terkait AIDS dan demensia vaskular.


Anti radikal bebas

Dapat digunakan tocopherol (vitamin E) yang berfungsi memperbaiki kerusakan oksidatif akibat radikal bebas yang memberi kontribusi sebagai penyebab dari Alzheimer.

Agen anti inflamasi (nonsteroid)

Pemberian agen ini berdasarkan postulat bahwa berbagai lesi Alzheimer seperti plak senilis, membutuhkan suatu keadaan inflamasi agar dapat berkembang menjadi fase yang lebih berat. Berbagai studi menunjukkan adanya perbaikan dan perlambatan perkembangan Alzheimer setelah pemberian singkat obat anti inflamasi ini. Contoh obat adalah rofecoxib (vioxx) dan naproxen (aleve).

Antibiotik

Obat ini berguna untuk mengurangi deposisi amiloid otak pada pasien Alzheimer.

Estrogen

Amat berguna pada wanita menopause dimana produksi estrogennya mulai menurun. Seperti kita ketahui estrogen merupakan suatu neurotropik dan membantu melindungi otak dari proses-proses degeneratif.

Aktivitas dan sikap hidup yang sehat

Aktivitas-aktivitas fisik dan mental sangat direkomendasikan pada pasien-pasien Alzheimer dengan memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah proses kemunduran lebih lanjut. Pada tahap perkembangan demensia Alzheimer yang dini, sikap hidup yang sehat, baik fisik maupun psikologis mampu memberikan perlindungan dan daya tahan dari otak terhadap lesi yang mulai muncul dengan cara membangkitkan kompensasi dari bagian otak yang masih sehat dan melindunginya dari perkembangan penyakit yang progresif.

PROGNOSIS

Angka survival rata-rata setelah munculnya onset awal dari gejala Alzheimer adalah sekitar 8-10 tahun. Faktor-faktor yang membantu progresivitas penyakit adalah adanya gejala ekstrapiramidal, adanya gejala-gejala psikotik, onset pada usia muda dan disfungsi kognitif yang dini.