Showing posts with label endokrin. Show all posts
Showing posts with label endokrin. Show all posts

Friday, November 4, 2016

Terapi Diabetes dan Resistensi Insulin dengan menghilangkan protein Gal3

Dengan menghilangkan protein galectin-3 (Gal3), sekelompok peneliti dari University of California School of Medicine mampu membalikkan proses resistensi terhadap insulin dan intoleransi glukosa pada diabetes menggunakan hewan coba tikus.

diabetes-mellitus

Dengan terikat pada reseptor insulin dalam sel,  Gal3 mencegah insulin terikat pada reseptornya sehingga mengakibatkan kondisi resistensi insulin. Tim peneliti yang dipimpin oleh Jerrold Olefsky, MD, professor of medicine di Divisi Endocrinology dan Metabolisme di UC San Diego School of Medicine, menunjukkan bahwa dengan menyingkirkan secara genetik protein Gal3 atau menggunakan inhibitor farmasi yang bekerja pada target spesifik, sensitivitas insulin dan toleransi glukosa dapat kembali normal, bahkan pada tikus berusia lebih tua. Namun, kondisi obesitas tetap tidak berubah.

Penelitian ini menempatkan protein Gal3 pada peta resistensi insulin dan diabetes pada tikus coba. Penemuan ini juga memungkinkan penerapan inhibitor protein Gal3 pada manusia sebagai pendekatan efektif dalam terapi diabetes mellitus.

Jerrold Olefsky dan peneliti lain telah mempelajari bagaimana proses inflamasi jaringan kronik telah menyebabkan resistensi insulin pada diabetes tipe 2. Pada jurnal yang dipublikasi tanggal 3 november, para peneliti menjelaskan bahwa proses inflamasi membutuhkan makrofag yaitu sel yang memiliki fungsi khusus untuk menghancurkan sel target.

Pada orang dengan obesitas, 40 persen sel jaringan adiposanya merupakan sel makrofag. Makrofag dalam prosesnya akan mensekresi Gal3, yang berfungsi sebagai pemberi sinyal untuk menarik lebih banyak makrofag ke lokasi inflamasi. Akhirnya, makin banyak makrofag, makin banyak pula produksi protein Gal3.

Lebih lanjut, para peneliti berhasil mengidentifikasi makrofag yang berasal dari sumsum tulang yang juga merupakan sumber Gal3 yang menyebabkan resistensi insulin. Kesimpulan penting lain dari penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa gal3 disekresi oleh makrofag dan dapat menyebabkan  resistensi insulin pada sel-sel hati, sel lemak dan sel otot meski tanpa inflamasi.

Sebelumnya Gal3 dikaitkan dengan beberapa kondisi penyakit lain.  Olefsky akan melanjutkan penelitian mengenai deplesi Gal3 sebagai pilihan terapi pada steatohepatitis non alkoholik dan pada fibrosis hati dan jantung.

Wednesday, February 25, 2015

Gejala Diabetes Mellitus

Diabetes dapat dideteksi dengan tes urin sederhana untuk menemukan kadar gula yang berlebih. Untuk lebih memastikan, maka dapat dilakukan pemeriksaan glukosa darah. Selain tes-tes tersebut, mereka yang menderita diabetes, dapat menunjukkan gejala-gejala yang khas dan dapat dicurigai seseorang telah terkena diabetes.

Diabetes sangat mungkin ditemukan dengan gejala yang minimal atau bahkan tanpa menunjukkan gejala sama sekali. Hal ini menyebabkan penderita diabetes seringkali tidak menyadari dirinya telah terkena diabetes. Hampir setengah dari mereka yang pada akhirnya di diagnosis terkena diabetes tipe 2, pada awalnya tidak menunjukkan gejala.

Pada kondisi prediabetes juga tidak menunjukkan gejala apa-apa. Meskipun demikian, prediabetes dalam perjalanannya akan menjadi diabetes tipe 2 dan gejala akan muncul dengan lambat.
Sedangkan diabetes tipe 1 jarang yang tidak disadari gejalanya. Bahkan, seringkali gejala yang muncul disertai dengan keluhan nyeri perut, dan mual-muntah.

Gejala yang paling sering muncul pada penderita diabetes adalah terkait dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia). Gejala klasik diabetes adalah sering berkemih (polyuria) dan kerap merasa haus (polydipsi). Rasa lemah, dehidrasi dan masalah dengan kebiasaan makan, juga terkait tingginya kadar glukosa darah.

Gejala Umum Diabetes

Berikut beberapa gejala yang umum ditemukan pada penderita Diabetes Mellitus :

Sering berkemih (polyuri)
Pernahkah anda pergi ke kamar mandi lebih sering dari biasanya ? Apakah anda menghabiskan sebagian besar waktu anda di toilet tiap harinya ? Bila IYA, segeralah memeriksakan diri ke dokter.
Sering berkemih merupakan gejala klasik dari diabetes. Bila insulin darah tidak efektif atau tidak ada sama sekali, maka ginjal tidak akan mampu memfilter glukosa kembali ke dalam darah. Sehingga, untuk melarutkan glukosa yang berlebih, ginjal akan menarik air dari darah, yang pada akhrnya membuat kandung kemih penuh dan anda sering berkemih
gejala-dan-tanda-diabetes

Rasa haus yang berlebihan (polydipsi)
Oleh karena penderita diabetes sering berkemih, maka tubuh harus segera mengganti cairan yang hilang. Hal inilah membuat mereka merasa haus yang berlebih. Sering merasa haus atau polydipsi ini, juga merupakan tanda klasik dari diabetes.

Rasa lapar yang berlebihan
Bila produksi insulin tidak memadai atau bahkan tidak ada atau terjadi resistensi terhadap insulin, maka sel-sel tidak dapat mengambil glukosa untuk diolah menjadi energi. Tubuh akan berespon dengan berusaha mencari tambahan energi dari luar, dalam hal ini makanan, sehingga timbullah rasa lapar yang terus menerus.

Bertambahnya berat badan
Berat badan bertambah terkait dengan rasa lapar yang berlebihan, sehingga konsumsi makanan pun berlebih yang akan ditimbun sebagai lemak tubuh.

Berat badan berkurang mendadak
Berat badan yang turun mendadak tidak seperti biasanya lebih umum dijumpai pada diabetes tipe 1, meski pada diabetes tipe 2 yang lama juga ditemukan. Oleh karena tidak ada insulin, glukosa darah tidak bisa digunakan dan tubuh akan mencari sumbe renergi alternatif. Selain dari meningkatnya rasa lapar, tubuh juga akan mendegradasi jaringan lemak dan otot untuk diolah menjadi energi,
Oleh karena sifat Diabetes tipe 1 yang lebih mendadak dibandingkan diabetes tipe 2 yang bertahap, maka penurunan berat badan juga lebih drastis teramati pada penderita Diabetes tipe 1.

Meningkatnya rasa lemah (fatigue)
Oleh karena sel-sel kerkurangan glukosa oleh tidak ada insulin atau resisten insulin, maka tubuh akan merasa lemah dan tidak bertenaga.

Lebih sensitif (iritable)
Mereka yang menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung, sering dikarenakan tubuh yang merasa lemah, kurang energi.

Pandangan kabur
Hal ini terjadi karena jaringan mata terdorong dari lensa mata sehingga mempengaruhi kemampuan ata untuk fokus. Dengan terapi yang tepat, hal ini bisa diatasi.  Pada kasus yang berat, dapat terjadi  kebutaan ataupun masalah penglihatan yang kronik.

Luka yang sulit sembuh
Bila kadar glukosa dalam darah tinggi, maka akan mengganggu proses fisiologis penyembuhan luka sehingga membuat luka lama sembuh dan kering.

Infeksi kulit dan jamur yang berulang
Bila kadar glukosa tinggi, maka tubuh rentan terkena infeksi bakteri dan jamur khususnya jaringan kulit. Selain lama sembuh, juga cenderung berulang.

Kulit gatal-gatal
Bila kadar gula tinggi, pada kulit akan timbul gejala gatal-gatal non infeksi.

Gusi kemerahan dan bengkak
Seringkali pada penderita diabetes ditemukan gusi yang membengkak dan kemerahan. Gigi geligi juga dapat dengan mudah copot oleh karena gusi yang merenggang.

Infeksi gusi yang berulang
Selain kemerahan dan bengkak, gusi juga dapat terkena infeksi yang berulang dan sulit sembuh.

Disfungsi ereksi pada pria
Umumnya diderita pasien diabetes pria berusia 50 tahun ke atas , dimana terjadi disfungsi seksual yang konstan dan sering.

Rasa kebas dan kesemutan di jari tangan atau kaki
Bila kadar glukosa dalam darah tinggi, akan merusak sel-sel saraf tepi dan juga pembuluh darah kecil yang menyuplai nutrisi untuk saraf tersebut. Sehingga pasien akan merasa kesemutan atau kebas.

Wednesday, February 4, 2015

Mengenal Diabetes Mellitus

Diabetes, sering disebut juga sebagai Diabetes Mellitus, merupakan penyakit gangguan metabolik dimana seseorang memiliki kadar gula darah (glukosa) yang tinggi, disebabkan baik oleh karena produksi insulin yang tidak adekuat, atau karena sel-sel tubuh tidak mampu berespon baik terhadap insulin, ataupun keduanya. Pasien penderita diabetes biasanya mengalami polyuria (sering berkemih), polydipsi (sering merasa haus) dan polyfagi (sering merasa lapar).

Secara garis besar ada 3 tipe Diabetes :

1. Diabetes Tipe 1
Pada diabetes tipe 1, tubuh pasien tidak mampu memproduksi insulin. Diabetes tipe 1 ini sering juga disebut sebagai :diabetes tergantung insulin (insulint-dependant diabetes), diabetes remaja (juvenile-diabetes) dan diabetes onset dini (early onset diabetes). Orang yang terkena diabetes tipe 1 biasanya pada usia remaja, dewasa muda dan sebelum usia 40 tahun. Diabetes tipe 1 hanya diderita 10% dari keseluruhan populasi penderita diabetes di seluruh dunia.


Pasien dengan diabetes tipe 1 memerlukan perawatan dengan injeksi insulin sepanjang hayat mereka. Mereka juga harus memastikan kadar gula darah selalu terkontrol dengan melakukan pemeriksaan rutin dan mengkonsumsi diet khusus untuk penderita diabetik. Pada tahun 2001 dan 2009, prevalensi diabetes tipe1 pada usia di bawah 20 tahun di USA meningkat hingga 23%.

2. Diabetes Tipe 2
Diabetes pada penderita ini terjadi karena tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup agar dapat berfungsi baik atau karena sel-sel tubuh tidak berespon terhadap insulin (insulin resisten). Diabetes tipe 2 diderita hampir 90% dari seluruh kasus diabetes.

Sebagian pasien mampu mengontrol gejala diabetes tipe 2 dengan menjalani diet yang sehat, rutin berolahraga dan megontrol kadar gula darahnya. Namun, diabetes tipe 2 merupakan penyakit yang sifatnya progresif, seiring waktu dapat menjadi lebih buruk secara perlahan-lahan, sehingga pasien diabetes tipe 2 pada akhirnya juga harus memakai insulin.

Mereka dengan berat berlebih (overweight dan obese) berisiko tinggi menderita diabetes tipe 2 dibanding mereka dengan ebrat badan normal. Orang yang memiliki lemak visceral berlebih, juga disebut obesitas sentral, lemak perut atau obesitas abdominal, berisiko tinggi melepaskan kimia berbahaya yang dapat mengganggu sistem kardiovaskular dan metabolik tubuh.

Memiliki berat badan berlebih, secara fisik tidak aktif dan makan makanan yang tidak sehat, merupakan faktor-faktor pendukung untuk menderita diabetes tipe 2. Dalam jurnal diabetologia, disebutkan bahwa konsumsi meski hanya satu kaleng minuman soda (non-diet) perhari, mampu meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 sebesar 20%. Sang peneliti dari Imperial College of London, yang melakukan penelitian tersebut, meyakini bahwa minuman soda tinggi gula memiliki efek langsung mencetuskan diabetes, bukan hanya sebagai faktor rrisiko belaka.

Risiko terkena diabetes tipe 2 juga meningkat seiring pertambahan umur. Para ahli belum semuanya sepakat mengenai sebabnya, namun dikatakan, pertambahan usia membuat kita lebih kurang aktif dengan berat badan yang cenderung bertambah. Mereka yang memiliki riwayat keluarga terkena diabetes, dan bangsa-bangsa timur tengah, afrika, dan asia selatan, cenderung berisiko tinggi terkena diabetes.

Pria yang memiliki kadar testosteron rendah, memiliki risiko terkena diabetes lebih tinggi dibanding pria normal. Peneliti dari Universitas Edinburgh, Skotlandia, mengatakan, level testosteron yang rendah terkait dengan resistensi terhadap insulin.

3. Diabetes Gestational
Diabetes gestattional adalah diabetes yang diderita selama hamil. Beberapa wanita hamil menderita kadar gula yang sangat tinggi dalam darahnya sementara tubuh mereka tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mentransfer semua gula ke dalam sel, menyebabkan kadar gula darah yang secara progrresif terus meningkat. Diagnosis diabetes gestational ini hanya dibuat saat sedang hamil.

Mayoritas pasien dengan diabetes gestational mampu mengontrol gula darah mereka dengan olahraga dan diet. Antara 10-20 % dari mereka membutuhkan obat-obatan. Diabetes gestational yang luput dari diagnosis atau tidak terkontrol, akan menngkatkan risiko komplikasi saat melahirkan. Anak yang dilahirkan juga cenderung memiliki berat badan yang berlebih.

Peneliti dari Institut kesehatan nasional Amerika dan Universitas Harvard, menmeukan bahwa, wanita yang mengkonsumsi protein dan lemak hewani tinggi sesaat sebelum hamil. Cenderung berisiko tinggi mendapat diabetes gestational saat hamilnya.

Gejala Diabetes

Berikut diagram gejala yang sering ditemukan pada diabetes :
gejala-diabetes

Prediabetes

Sebagian besar pasien dengan diabetes tipe 2 memiliki gejala awal yang disebut prediabetes. Kadar glukosa darah mereka lebih tinggi dari nilai normal, namun belum memadai untuk didiagnosis sebagai diabetes. Pada kondisi prediabetes ini sel-sel dalam tubuh mulai menjadi resisten terhadap insulin.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, bahkan pada fase prediabetes, kerusakan pada sistem kardiovaskular dan jantung telah terjadi.

Diabetes dan gangguan Metabolisme

Diabetes Mellitus diklasifikasikan sebagai penyakit gangguan metabolisme. Metabolisme adalah mekanisme dimana tubuh mengolah makanan yang telah dicerna untuk pertumbuhan dan sumber energi. Sebagian besar makanan yang kita makan akan dicerna menjadi glukosa. Glukosa merupakan bentuk gula sederhana yang kemudian akan diedarkan melalui darah ke seluruh organ dan jaringan tubuh. Glukosalah yang diambil sel-sel dari darah, untuk digunakan sebagai sumber energi dan pertumbuhan. Namun, glukosa tidak dapat memasuki sel bila insulin tidak ada/ Insulin berperan sebagai hormon perantara memasukkan glukosa ke dalam sel.

Insulin sendiri merupakan hormon yang diproduksi pankreas. Setiap habis makan, pankreas secara otomatis akan memproduksi sejumlah insulin yang adekuat untuk membantu mentransfer glukosa ke dalam sel dan otomatis menurunkan kadar glukosa darah.

Seseorang yang terkena diabetes, kadar glukosa darahnya sangat tinggi (hiperglikemia). Hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin atau sel-sel tidak berespon dengan baik terhadap kehadiran insulin (terjadi resistensi terhadap insulin) sehingga kadar gula dalam darah tetap tinggi ataupun meningkat sehabis makan. Kadar gula darah yang berlebih ini akan dibuang tubuh melalui ginjal (larut dalam urin). Jadi, meskipun tubuh memiliki kadar glukosa yang memadai, namun sel-sel tidak dapat menggunakanya sebagai sumber energi dan bahan yang diburuhkan untuk pertumbuhan.

Cara mementukan Diabetes, prediabetes atau normal

Dokter akan memeriksa kadar gula darah pasien apakah normal, prediabetes atau diabetes melalui salah satu dari 3 tes labroatorium berikut :

Tes A1C (kadar HbA1C)
  • Lebih atau sama dengan 6.5% berarti diabetes
  • Antara 5.7% and 5.99% berarti prediabetes
  • Kurang dari 5.7% berarti normal 
Tes Kadar Glukosa Darah Puasa (GDP)
  • Sama atau lebih dari 126 mg/dl berarti diabetes
  • Antara 100 mg/dl and 125.99 mg/dl berarti prediabetes
  • Kurang dari 100 mg/dl means normal
Bila pembacaan abnormal pasca tes glukosa darah puasa (GDP), maka dinyatakan gangguan glukosa darah puasa.

Tes TGO (Toleransi Glukosa Oral)
  • Sama atau lebih dari 200 mg/dl berarti diabetes
  • Antara 140 and 199.9 mg/dl berarti prediabetes
  • Kurang dari 140 mg/dl berarti normal
Bila pembacaan abnormal pasca tes toleransi glukosa oral (TTGO) maka dinyatakan gangguan toleransi glukosa 

Mengapa dinamakan Diabetes Mellitus ?

Kata diabetes berasal dari kata dalan bahasa Yunani, diabainein, yang berarti “sifon”, semacam pipa penyalur air. Aretus sang Cappodician, seorang dokter Yunani pada abad 2 M, menggunakan kata ini untuk mendeskripsikan kondisi pasien yang kencing berlebihan (polyuri), yang menurutnya seperti sebuah sifon. Kata diabainein ini kemudian berubah menjadi diabetes saat diadopsi dalam bahasa Inggris..

Tahun 1675, Thomas Willis menambahkan kata mellitus yang merupakan kata dari bahasa latin bermakna “madu”. Hal ini karena urin dan darah penderita diabetes mengandung glukosa berlebihan sehingga berasa manis seperti madu. Sehingga secara harfiah, Diabetes mellitus bisa bermakna “menyalurkan lewat sifon, air yang manis”.

Pada kebudayaan Cina kuno, orang-orang memperhatikan bahwa semut mengerubuti air kemih orang-orang tertentu, oleh karena rasanya yang manis. Sehingga, muncullah istilah penyakit kencing manis.

Mengontrol Diabetes

Semua tipe diabetes dapat diterapi. Diabetes tipe 1 membutuhkan perawatan seumur hidup, karena saat ini, tidak ada obat yang diketahui dapat menyembuhkan dengan tuntas. Diabetes tipe 2 juga biasanya membutuhkan perawatan seumur hidup, namun beberapa orang sanggup meniadakan gejala diabetes yang dideritanya meskipun tanpa menggunakan obat-obatan, melainkan dengan olahraga , pengaturan makanan dan kontrol berat badan.

Para peneliti dari Klinik Mayo Arizona di Scottsdale Amerika menunjukkan bahwa, pada pasien obese yang menjalani operasi bypass lambung, sebagian besar akan mengalami kesembuhan dari diabetes tipe 2 yang juga diderita. Namun dalam 3-5 tahun pasca operasi, ditemukan 21% dari mereka mengalami kekambuhan. Yessica Ramos, MD, mengatakan bahwa, kekambuhan pasien-pasien tersebut oleh karena riwayat mengidap diabetes tipe 2 yang lama sebelum menjalani operasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, semakin dini intervensi bedah pada pasien dengan obese, akan semakin baik pula pasien-pasien tersebut dengan penyerta diabetes tipe 2, mengalami remisi.

Diabetes tipe 1 diterapi dengan injeksi insulin reguler, disertai diet khusus diabetes dan olahraga. Sementara diabetes tipe 2 biasanya diawali terapi dengan tablet anti-hiperglikemik, diet khusus dan olahraga. Bila dalam perjalanan penyakit menjadi progresif, maka juga membutuhkan injeksi insulin sebagai terapi.

Bila diabetes tidak dikontrol dengan terapi yang adekuat, maka pasien berisiko tinggi untuk mendapatkan komplikasi.

Komplikasi pada diabetes yang tidak terkontrol baik

Berikut adalah daftar kemungkinan komplikasi yang dapat diderita pasien diabetes bila tidak mengontrol secara adekuat penyakitnya :
  • Komplikasi pada mata : glaukoma, katarak, retinopati dll. 
  • Komplikasi pada kaki : neuropati, ulkus dan kadang gangren yang membutuhkan amputasi. 
  • Komplikasi pada kulit : Pasien diabetes lebih rawan terkena infeksi kulit dan kelainan kulit lainnya. 
  • Komplikasi pada jantung : dapat terjadi penyakit jantung iskemik, ketika suplai darah pada otot-otot jantung berkurang.
  • Hipertensi : Umum ditemukan pada pasien diabetes, sehingga dapat menignkatkan risiko sakit ginjal, masalah pada mata, serangan jantung hingga stroke. 
  • Kesehatan jiwa : Diabetes yang tidak terkontrol akan meningkatkan risiko menderita depresi, kecemasan dan gangguan jiwa lainnya. 
  • Kehilangan pendengaran : Diabetes meningkatkan risiko gangguan pendengaran.
  • Penyakit gusi : Ditemukan tingginya persentasi masalah gusi pada mereka yang menderita diabetes yang tidak terkontrol. 
  • Gastroparesis : Suatu kondisi dimana otot lambung berhenti bekerja dengan baik. 
  • Ketoasidosis : Suatu gangguan kombinasi antara ketosis dan asidosis, merupakan akumulasi tertimbunnya badan keton dan asam dalam darah. Akibat tubuh berusaha mendapatkan energi melalui jalan lain selain glukosa bebas dalam darah.
  • Neuropati : Neuropati diabetik merupakan tipe kerusakan saraf yang menimbulkan gangguan cukup luas, 
  • HHNS (Hyperosmolar Hyperglycemic Nonketotic Syndrome) : Suatu kondisi dimana kadar glukosa darah meningkat sangat tinggi sementara tidak ditemukan badan keton dalam darah dan urin. Kondisi ini merupakan suatu emergensi dan harus ditangani dengan segera dan agresif. 
  • Nefropati : Tekanan darah yang tidak terkontrol akan menyebabkan gangguan fungsi ginjal. 
  • PAD (peripheral arterial disease) : Gangguan arteri perifer, merupakan sekumpulan gejala seperti nyeri pada betis, kesemutan dan sampai gangguan berjalan. 
  • Stroke : Bila tekanan darah, kadar kolesterol dan kadar glukosa darah tidak terkontrol, risiko terkena stroke sangat tinggi. 
  • Disfungsi ereksi : Merupakan gangguan impotensi pada pria. 
  • Infeksi : Mereka yang diabetesenya tidak terkontrol, rawan terkena infeksi. 
  • Gangguan penyembuhan luka : Luka luka baik akibat kecelakaan maupun lesi infeksi, membutuhkan lebih lama waktu untuk sembuh.

Wednesday, July 24, 2013

Adipositas (kegemukan)

Secara umum dapat dikatakan, bahwa berat badan orang dewasa normalnya adalah sama dengan tinggi badannya (dalam cm) dikurangi 100, dan hasilnya disebutkan dalam kg. Norma ini tidak berlaku secara mutlak sebab ada toleransi Perbedaan lebih tinggi atau lebih rendah 10% dari syarat tadi masih dianggap dalam batas normal.

Apabila berat badan dalam waktu singkat dengan segera mengalami kenaikan atau penurunan, hal ini tidak disebabkan oleh penambahan atau kehilangan jaringan lemak, melainkan oleh karena penambahan atau kehilangan cairan dalam tubuh. Misalnya seseorang yang kegemukan sama sekali tidak makan dalam 24 jam, ada kemungkinan berat badannya akan turun sebanyak 1 kg. Hal ini bukan dikarenakan kehilangan zat lemak dari tubuhnya tetapi  terutama oleh karena banyak air dikeluarkan secara diurase dengan asupan cairan yang tidak seimbang dengan pengeluaran. Kalau setelah puasa 24 jam tersebut kemudian makan dan minum secara biasa lagi , maka berat badannya akan segera bertambah 1 kg kembali.
kegemukan-adipositas-anak

Jadi yang dimaksud dengan adipositas (kegemukan) ini disebabkan oleh karena kelebihan zat lemak di dalam tubuh seseorang sehingga berat badannya di atas nilai toleransi normal.

hipertensi-tekanan-darah-tinggi
Adipositas dapat dibagi 2 macam :

  1. Adipositas yang endogen. Dalam hal ini kegemukan disebabkan oleh kelainan hormonal dalam tubuh seseorang, yang kadangkala disertai kelebihan makan makanan berkalori tinggi.

  1. Adipositas yang eksogen. Istilah ini dimaksudkan pada orang sehat  yang mengalami kegemukan karena pola kebiasaan makan yang berkelebihan kalori dengan aktivitas fisik yang kurang memadai untuk membakar kelbeihan kalori tersebut.  Makanan berkalori tinggi ini dapat berupa makanan tinggi lemak atau tinggi karbohidrat. Seperti kita ketahui pada proses lipogenase (pembentukan  zat lemak tubuh) membutuhkan Asetyl co-enzym A yang berasal dari metabolisme zat hidrat arang (karbohidrat). Pada orang yang kelebihan konsumsi karbohidrat , kadar glukosa dalam darahnya akan meningkat pula. Dengan pengaruh insulin sebagian glukosa akan memasuki jaringan lemak dan digunakan untuk sintesis zat lemak. Untuk proses ini juga melibatkan FFA (free fatty acid).

Tingginya kadar glukosa dalam darah menyebabkan sel otot lebih memilih glukosa ini untuk dibakar menjadi energi. Sedangkan free fatty acid  yang tidak digunakan akan bersama sebagian glukosa  yang berlebih di simpan dalam jaringan lemak lewat proses lipogenase di atas.

Berikut ilustrasi bila konsumsi karbohidrat berlebih : 
utilisasi-glukosa-ffa
bagan utiliasi glukosa-ffa pada asupan karbohidrat berlebih
Apabia seseorang berpuasa maka akan terjadi sebaliknya. Kadar glukosa dalam darah tidak meningkat, jadi tidak ada glukosa yang memasuki jaringan lemak. Oleh karean itu FFA dalam jaringan lemak tidak digunakan untuk mensintesis zat lemak (lipogenase).

Jadi sekarang secara mudah FFA akan dikeluarkan dari jaringan lemak dan memasuki darah. Kalau kadar FFA dalam darah meningkat maka hal ini akan menekan utilisasi (penggunaan) glukosa oleh otot untuk menghasilkan energi. Otot akan lebih memilih menggunakan FFA ini sebagai sumber bahan bakar yang dirubah menjadi energi. Glukosa sendiri akan disimpan dan kurang digunakan, supaya kadar glukosa dalam darah tidak terus turun. Dengan kata lain utilisasi FFA ini adalah mekanisme tubuh untuk mencegah terjadinya hipoglikemi pada keadaan asupan karbohidrat yang rendah.  
utilisasi-glukosa-ffa
Bagan utilisasi glukosa-FFA pada asupan karbohidrat rendah
Apakah kerugian bila seseorang mengalami adipositas (kelebihan berat badan) :
  • Usia hidup yang lebh pendek dibandingkan mereka yang berberat badan normal.
  • Adipositas menyebabkan resiko atherosklerosis meningkat.
  • Adipositas memudahkan timbulnya hipertensi.
  • Adipositas memudahkan timbulnya diabetes tipe 2 (dewasa).
  • Adipositas memudahkan terbentuknya batu empedu.
  • Adipositas memudahkan terjadinya trombosis pada mereka yang post operasi
  • Adipositas dapat mengakibatkan insufisiensi paru-paru oleh karena diafragma yang terdesak ke atas, sehingga isi rongga thoraks (dada) menjadi sempit.
  • Adipositas dapat memperberat decompensatio cordis (suatu keadaan gagal jantung)

Berikut pembahasan lebih lanjut kedua jenis adipositas di atas :

  1. Adipositas Endogen

Dalam hal ini dasar adipositas adalah gangguan hormonal, tetapi seringkali juga disertai  kebiasaan makan dengan kalori berlebih. Beberapa penyakit hormonal berkaitan dengan adipositas endogen ini :
  • Myxoedem
Ditemukan pada hipofungsi dari kelenjar thyroid, berat badan penderita umumnya meningkat. Hal ini biasanya tidak disebabkan oelh penghimpunan zat lemak, melainkan oleh retensi air.  Perbedaannya dengan adipositas eksogen  :

Myxoedem
Gejala
Adipositas Eksogen

+
Kulit kering
-
+
Oedem kelopak mata
-
+
Penderita mengeluh dingin
-
+
Rambut gugur
-
+
Suara rendah atau parau
-
+
Anorexia (nafsu makan berkurang)
-
-
Berkeringat
+
Turun
Nilai PBI (Protein Binding Iodin)
Normal
Turun
Nilai BM (Basal Metabolism)
Turun

  • Syndroma cushing
Merupakan kelainan dari kelenjar anak ginjal (adrenalin). Kadang kadang sangat sulit membedakan adipositas akibat sindrom cushing dengan adipositas eksogen
  • Insulinoma
Oleh karena kelebihan produksi insulin,maka kadar glukosa dalam darah akan turun. Hal ini akan menimbulan rasa lapar berlebihan pada penderita sehingga ia akan makan banyak. Dengan demikian kadara glukosa darah akan naik lagi. Akan tetapi kemudian insulin akan mempergiat lipogenase (pembentukan zat lemak) sehingga terjadilah obesitas.
  • Dystrofia adiposo-genitalis
Merupakan gangguan akibat tumor pada kelenjar hipofisis dimana pada yang bersangkutan akan ditemukan
Adipositas dan atrofi alat kelamin (pada laki-laki).

Penyakit demikian jarang sekali ditemukan. Distrofia adiposa genitalis pertama kali dilaporkan oleh Frohlich. Penyakit ini mesti dibedakan dengan dipositas pada anak lelaki  yang disertai terjadinya keterlambatan pubertas (akil baliq). Sindroma yang satu ini terutama ditemukan pada anak pria tunggal dalam satu keluarga atau anak pria yang bungsu. Seringkali anak pria tersebut sangat dimanjakan, sehingga kelebihan makanan dan menyebabkan adipositas dan memperlambat permulaan pubertas. Namun, setelah pubertas, pertumbuhan anak akan kembali normal.

Sebaliknya pada distrofia adiposo genitalis, gangguan perkembangan bersifat permanen oleh karena sumber penyebab berupa tumor di hipofisis masih ada.

  1. Adipositas Eksogen

Adipositas eksogen ditemukan pada orangyang namun dnegan pola makan yang berlebihan kalori dengan aktivitas fisik yang tidak memadai. "fat comes from food, where else it come from?". Beberapa faktor yang mempengaruhi :
  • Kebiasaan.
Terdapat famili, suku-suku pun bangsa-bangsa dengan kebiasaan makan yang berlebihan.
  • Cara makanan dimasak dan disajikan
Mereka yang terbiasa menyajikan makanan yang lezat dan berlebihan tentu akan lebih banyak makan dibandingkan yang makan dengan sederhana
  • Pengaruh familial
Dalam keluarga tertentu akan ditemukan banyak yang mengalami kegemukan dengan sebab yang tidak jelas apakah karena kebiasaan yang berlebihan atau karena pengaruh herediter (keturunan).
  • Aktivitas fisik
Gerak badan yang kurang akan memudahkan timbulnya adipositas oleh kaori yang dibakar tidak sebanding dengan asupan yang masuk. Ditambah seringkali mereka yang terlanjur gemuk menjauhi oralhraga karena malu akan bentuk tubuhnya bila memakai pakaian sport.
  • Faktor Psikis
Pada kondisi psikis tertentu seseorang cenderung dapat makan banyak untuk mengatasi stress yang diderita misalnya ketika mendapat kekecewaan, patah hati, emosi, dll. Namun mereka yang bila stress justru malah berkurang makannya tidak akan mengalami kegemukan,

TERAPI :

Jelaslah bahwa pengobatan paling tepat terdiri dari mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi tiap hari. "He who eats till he is sick, must fast till he is well".
  • Diet
Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung :
  1. Banyak protein (daging kurus, skimmed milk, ikan)
  2. Banyak sayur (mengandung vitamin,mineral dan menghasilkan perasaan kenyang dalam lambung)
  3. Buah buahan dalam jumlah biasa.
  4. Nasi dalam jumlah sedikit. Sebagai pengganti nasi juga dapat menggunakan kentang dalam jumlah sedikit.
  5. Kopi dan the seberapa suka tapi tanpa gula.
  6. Dilarang : gule, kue manis, lemak, minyak, coklat dst.

Dalam menilai penurunan berat badan sebaiknya berpatok pada nilai penurunan berat badan. Tidak perlu berat badan turun drastis lebih dari 1/2-1 kg dalam seminggu yang penting konsisten. Kalau berat badan tetap atau naik, berarti bahwa penderita harus mengulangi lagi jumlah makanannya.

Frekuensii makan sebaiknya 3 x sehari. Meski jumlah porsinya sedikit, frekuensi harus tetap normal untuk menghidari rasa lapar berlebihan yang berujung pada keinginan membalas makan dan gagalnya diet.
  • Aktivitas fisik
Sebaiknya orang dengan kegemukan mengadakan cukup gerak badan dalam sehari. Dengan demikian mereka akan lebih segar. Tetapi sebaiknya disadari bahwa hampir tidak mungkin untuk menurunkan berat badan dengan gerak badan saja. Misalnya, untuk menggunakan semua tenaga (kalori) yang terdapat dalam 1/2 kg lemak, kita harus  jalan kaki kurang lebih 36 jam.
  • Diuretika
Diuretika bukan merupakan obat untuk adipositas/obesitas. Jelas bahwa denan pemberian diuretika berat badan akan turun  namun bukan karen akehilangan lemak melainkan karena kehilangan air. Pengobatan jenis ini adalah pengobatan "palsu" dan tidak bermanfaat serta bisa berbahaya bila tidak terkontrol dengan baik sebab akan mengakibatkan hipokalemia yang berujung pada rasa lemah lesu bahkan gangguan jantung.
  • Hormon tiroxin
Pemberian hormon yang diproduksi kelenjar tiroid ini adalah suatu kesalahan besar. Tiroxin hanya akan menurunkan berat badan kalau diberikan dalam dosis yang toksis. Kalau diberikan dalam dosis rendah maka kemungkinan besar penderita akanmengalami gangguan keseimbangan fungsi kelenjar hipofisis dan tiroid.
  • Golongan amfetamin
Beberapa dokter meresepkan/menggunakan obat jenis ini (misalnya dexedrine dan benzedrine) untuk mengurangi nafsu makan penderita. Akan tetapi oleh karena kemungkinan timbulnya komplikasi tertentu, sebaiknya pengobatan demikian dihindari, kecuali ada pertimbangan tertentu dari dokter ahli yang bersangkutan.

Yang terpenting dalam menurunkan berat badan adalah kemauan penderita. Berkenaan dengan hal ini sangat penting bagi dokter untuk memberi pertolongan psikologis yang sebaik baiknya. Berat badan penderita sebaiknya diukur dengan rutin setiap satu atau dua minggu. Kalau ternyata belum turun maka dokter harus memberi semangat dan mempergiat penderita untuk mengurangi jumlah makannya. Sebaliknhya bila ada kemajuan yang dicapai, dokter memberikan pujian dan membesarkan semangat penderita agar tetap konsisten.

PROGNOSIS

Mereka yang menderita kelebihan berat badan ringan seringkali berhasil menurunkan berat badannya sampai normal. Namun mereka yang kelebihan berat badannya berat seringkali gagal. Namun demikian dokter diharapkan tetap terus memberikan pengertian dan motivasi yang sebaik-baiknya.

Saturday, September 1, 2012

Seputar Diabetes Mellitus


Apakah diabetes itu ?

Diabetes mellitus, atau seringkali hanya disebut sebagai diabetes, merupakan sekelompok kondisi metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah.

Diabetes diakibatkan oleh karena adanya gangguan produksi insulin pada pankreas ataupun gangguan terhadap aksi insulin itu sendiri.

Diabetes dapat disembuhkan dengan diet, olahraga, dan obat-obatan. Benar atau tidak ?

Salah. Tidak ada obat untuk diabetes, dan penyakit ini akan berlangsung sepanjang hidup. Namun, diet, olahraga, dan obat-obatan dapat membantu mengelola kadar glukosa dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Apakah gejala dari diabetes ?

Diabetes mempengaruhi banyak sistem tubuh yang berbeda dan menyebabkan sejumlah gejala, diantaranya rasa lapar yang berlebihan dan / atau rasa haus, mulut kering, meningkatnya keinginan buang air kecil, kelelahan, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, sakit kepala, dan menurunnya penglihatan.

Penyembuhan luka yang buruk, infeksi vagina, impotensi, berat badan bertambah, mati rasa atau kesemutan pada ekstremitas, dan kulit gatal juga dapat dikaitkan dengan diabetes.

Insulin adalah hormon alami yang disekresikan oleh organ atau kelenjar apa ?

Pankreas. Kadar gula darah dikendalikan oleh hormon insulin, yang diproduksi di dan disekresikan oleh pankreas.
pankreas-penghasil-hormon-insulin
pankreas, tempat insulin diproduksi
Orang yang mengalami obesitas lebih mungkin untuk menderita diabetes tipe 2. Benar atau tidak ?

Benar. Mereka dengan peningkatan lemak tubuh berada pada risiko tinggi untuk diabetes tipe 2. Risiko terbesar bagi orang-orang dengan kelebihan lemak pada daerah sekitar pinggang. Orang-orang ini juga mengalami peningkatan risiko untuk hipertensi, kadar kolesterol tinggi, dan penyakit jantung dibandingkan dengan mereka yang ramping atau memiliki lemak berkonsentrasi di sekitar pinggul.

Prediabetes dianggap sebagai kondisi reversibel. Benar atau tidak?
Benar. Pradiabetes telah disebut sebagai "gangguan toleransi glukosa" dan dianggap sebagai tahap awal diabetes tipe 2, yang berpotensi reversibel.

Diabetes tipe 2 dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada bagian tubuh apa ?

Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada organ yang berbeda, termasuk saraf, pembuluh darah, mata, dan ginjal.

Apakah diabetes gestasional ?

Gestational diabetes adalah diabetes yang terjadi selama kehamilan. Diabetes ini meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi yang dikandungnya.

Orang dengan diabetes rentan terhadap infeksi. Benar atau tidak ?

Diabetes dapat menurunkan kemampuan tubuh Anda untuk melawan infeksi.Gula darah tinggi (glukosa) menyebabkan kadar gula yang tinggi dalam jaringan tubuh Anda. Ketika hal ini terjadi, bakteri tumbuh pesat dan infeksi dapat berkembang lebih cepat pada orang dengan diabetes.

Pada diabetes tipe 1, tubuh tidak dapat memproduksi insulin. Benar atau tidak ?

Benar. Orang dengan diabetes tipe 1 tidak menghasilkan insulin dan harus mendapatkan suntikan insulin.

Ketika tubuh tidak dapat merespon insulin, termasuk jenis diabetes apa ?

Diabetes tipe 2.Orang dengan diabetes tipe 2 dapat menghasilkan insulin, tetapi tubuh mereka tidak dapat merespon dengan baik terhadap insulin yang diproduksi pankreas.

Apa yang dimaksud dengan kondisi di mana ginjal tidak mampu menahan air ?

Diabetes insipidus. Diabetes insipidus ini berbeda dari diabetes mellitus. Diabetes insipidus ditandai oleh ketidakmampuan ginjal untuk menahan air, sehingga volume urin besar dan encer serta penderita seringkali merasa haus.