Showing posts with label alergi. Show all posts
Showing posts with label alergi. Show all posts

Friday, September 20, 2013

Erupsi Obat

Merupakan reaksi alergik berat pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi sebagai akbat pemberian obat yang biasanya sistemik.

Patogenesis :
  • Reaksi hipersensitivitas tipe I : reaksi anafilaktik
  • Reaksi hipersensitivitas tipe II : reaksi sitotoksik
  • Reaksi hipersensitivitas tipe III : reaksi kompleks imun
  • Reaksi hipersensitivitas tipe IV : reaksi tipe lambat
Diagnosis :
  • Anamnesis : adanya obat yang dikonsumsi , kelainan timbul secara akut disertai gatal dan demam.
  • Kelainan kulit generalisata den bentuk bervariasi : urtikaria, eritema, purpura, eritema nodosum, eritroderma.
Diagnosis Banding :
  • Erupsi exantema : viral exantem, sifilis sekunder, pitiriasis rosea atipikal, dermatitis kontak, alergi meluas.
Pemeriksaan Penunjang :
  • Eosinofil > 1000/ml
  • Limfositosis dengan limfosit atipikal
  • Patologi Anatomi.
Perawatan RS :
  • Rawat jalan bila ringan
  • Rawat inap bila berat
Penatalaksanaan :
  1. Sistemik :
    • Cari dan hindari obat penyebab
    • Prednison 3 x 100 mg
    • Antihistamin
  2. Topikal :
    • Bila kering diberi bedak
    • Bila basah dikompres
Lama Perawatan :
Tergantung kondisi penyakit

Masa Pemulihan :
7-14 hari

Prognosis :
Baik, bisa sembuh total

Tuesday, August 6, 2013

Sekilas Sindrom Steven-Johnson

Merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di orifisium dan mata dengan keadaan umum dari ringan sampai berat.

Patogenesis :
- Diduga reaksi alergi tipe III dan IV
- Reaksi Tipe III : Komplks antigen dan antibiotik membentuk mikropresipitasi kemudian mengaktivasi sistem komplemen sehingga menyebabkan akumulasi neutrofil dan lisosim yang akhirnya menyebabkan kerusakan organ sasaran.
- Reaksi tipe IV : Limfosit T yang tersensitasi kontak dengan antigen yang sama mengeluarkan limfokin yang menyebabkan reaksi radang.

Diagnosis :
- Kelainan kulit : eritema, vesikel, bulla, purpura, bisa sampai generalisata.
- Kelainan selaput lendir di orifisium : mukosa mulut (100%), lubang alat genital (50%), lubang hidung, dan anus jarang (8% dan 4 %), dapat terlibat faring, saluran nafas atas dan esofagus.
- Kelainan mata : konjungtivitis 80 % diantara semua kasus.

Diagnosis Banding :
Nekrolisis epidermal toksik

Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan biopsi histopatologik (PA)

Konsultasi :
Anestesi, interna, mata, THT.

Penatalaksanaan :

SSJ Berat
- Trias : Gangguan pada kulit + mata + selaput lendir di orifisium.
- Kesadaran menurun.
- Purpura
- Penanganan :
  • Infus Ringer laktat 32 tetes/menit , sambil menunggu hasil cito konsul anestesi.
  • Kortikosteroid : deksametason 4 x 10 mg/hr/iv (per 6 jam).
  • Antibiotika : gentamisin 2 x 80 mg/hr/iv (BB > 40 mg), 2 x 60 mg/hr/iv (BB < 40 kg).
  • Kontrol kadar ureum kreatinin hingga normal.
  • Setelah pemberian kortikosteroid 1 minggu lakukan pemeriksaan elektrolit Na, Cl dan K.
  • KCl 3 x 500 mg/hr (Aspar K bila terjadi penurunan K)
  • Neoanabolen : metandrostenolon 4 x 10 mg.
  • Bila terjadi purpura yang luas (>50%) beri vit. C  2 x 500 mg/hari/iv,
    Hemostatik adona 3 x 1 ampul / hari, 
    Lokal : beri sufratul untuk lesi erosi, gentian violet / borax glycerin untuk lesi di mulut.
  • Diet TPRG (Tinggi protein rendah garam) bila kesadaran membaik dan lesi mulut ada perbaikan. 
  • Setelah 2-3 hari keadaan membaik segera deksametason diturunkan 3 x 10 mg/hari/iv (per 8 jam), dan seterusnya.
  • Bila lesi baru tidak timbul dan lesi yang sudah lama membaik, ganti kortikosteroid iv dengan tablet yakni prednison dengan dosis sesuai equivalensinya.
  • Bila pengobatan tidak berhasil memperbaiki keadaan segera lakukan transfusi darah whole blood 300 cc/hr dalam 2 hari (cito hb terlebih dahulu).
  • Laboratorium : Cito GDS, ureum-kreatnin, elektrolit darah (setelah seminggu pengobatan), trombosit, APTT dan TT.
 SSJ Ringan
- Trias (+) tapi sedikit (< 50%) dan KU baik (sadar)
- Pengobatannya :
  • Prednison tab 1 x 2 tab/hr
  • Antibiotik eritromisin 3 x 500 mg/hr.
  • Bila ada kontraindikasi ganti dengan eritromisin stearat (Ery EES) 

Sunday, July 28, 2013

Urtikaria

Merupakan kelainan pada kulit yang terasa gatal dan panas, ditandai dengan plak eritem yang mula-mula kecil dan semakin digaruk semakin membesar, timbul cepat tetapi hilang perlahan-lahan.

Patogenesis :
Terjadi karena vasodilatasi disertai permeabilitas kapiler yang meningkat sehingga terjadi transudasi cairan yang mengakibatkan pengumpulan cairan setempat sehingga secara klinis tampak edema setempat disertai kemerahan. Di dermis, terjadi infiltrasi sel radang (limfosit, neutrofil, eosinofil) di sekitar pemuluh darah. faktor imunologik lebih berperan pad aurtikaria yang akut, biasanya igE terikat pada permukaan sel mast dan sel basofil.
Bila ada antigen yang sesuai berikatan dengan igE maka terjadi degranulasi sel, sehingga mampu melepaskan mediator. Keadaan ini jelas tampak pada reaksi tipe 1, misalnya alergi obat dan makanan. Komplemen juga ikut berperan, aktivasi komplemen menyebabkan pelepasan anafilaksis agen yang mampu merangsang sel mast dan sel basofil.

Diagnosis :
  1. Eritema disertai edema setempat, berbatas tegas dan kadang-kadang tampak bagian tengah lesi berwarna lebih pucat. Muncul mendadak dan hilang perlahan.
  2. Sangat gatal disertai rasa panas terbakar.
Diagnosis Banding :
  1. Purpura anafilaktoid
  2. Pitiriasis rosea bentuk papuler
  3. Urtikaria pigmentosa
Pemeriksaan Penunjang :
Uji tusuk (prick test)

Konsultasi :
THT, gigi dan interna

Perawatan :
Rawat jalan poliklinik

Terapi :
  1. Anamnese dan pemeriksaan fisis yang cermat dapat membantu menegakkan diagnosis sekaligus mengetahui faktor penyebab / jenis urtikarianya.
  2. Penatalaksanaan ideal : menghindari penyebab, tetapi pada urtikaria kronis penyebab sulit diketahui
    Obat yang dapat digunakan antara lain :
    • Antihistamin
      1. Difenhidramin HCl diberikan secara i.m 10-20 mg/dosis, 2-3 kali/hari. Dosis untuk anak 0,5 mg/kgBB/dosis, 3 kali/hari.
      2. Klorfeniramin maleat dengan dosis 3-4 mg/dosis sebanyak 3x/hari. Dosis untuk anak 0,09 mg/kgBB/dosis, 3 kali/hari.
      3. Prometasine HCl dengan dosis 25-50 mg/dosis, 2-3 kali/hari. Dosis bayi 2,5-5 mg/kgBB/dosis, 1-2 kali/hari. Dosis anak 5-10 mg/kgBB/dosis,1-2 kali/hari.
    • Kortikosteroid
      Digunakan hanya pada kasus berat dan akut serta diberikan dalam jangka pendek lalu lakukan tappering off.
      1. Prednison : 5-10 mg/dosis, 2-3 kali/hari.
      2. Deksametason : 0,5-1 mg/dosis, 2-3 kali/hari.
    • Pengobatan topikal
      Secara simptomatis , sebagai antipruritus bisa menggunakan bedak salisil acid 2,5% atau bedak kocok.
Penyulit :
Angioedema

Friday, July 26, 2013

Sekilas Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS)

Merupakan suatu infeksi kulit berat yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus menghasilkan eksotoksin exfoliative sehingga menyebabkan terjadinya epidermolisis.

Diagnosis :
  • Sering pada anak-anak berusia dibawah 10 tahun terutama yang baru lahir
  • Demam dan penderita gelisah, lesi menyebar hampir ke seluruh tubuh.
  • Bulla berdinding tipis, cepat menyebar dan mudah pecah.
  • Eritema sebagian besar tubuh, krusta dan erosif disertai skuama lamelar.
  • Nikolsky sign (+).
Diagnosis Banding :
  • Toksik epidermal nekrolisis
  • Sindrom Steven-Johnsons
Pemeriksaan Penunjang :
  • Pemeriksaan biopsi histopatologis (PA)
  • Kultur.
  • PCR
Konsultasi :
  • Bagian anak dan anestesi (pengaturan keseimbanagn cairan dan gangguan elektrolit).
Perawatan Rumah Sakit :
  • Rawat Inap
Terapi :
  • Sistemik :analgetik dan antipiretik bila perlu.
  • sistemik : dikloksasilin atau flukloksasilin 12,5 - 25 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
  • Topikal : Kompres atau bersihkan dengan NaCl 0,9% pada apgi dan sore hari.
  • Topikal : Antibiotik topikal berbentuk krim.

Thursday, July 25, 2013

Sekilas Dermatitis Atopik

Merupakan kondisi pada kulit yang ditandai dengan papel eritem serta likenifikasi, kadang-kadang madidans terutama pada wajah dan permukaan ekstensor siku dan lutut serta dihubungkan dengan adanya faktor atopi pada penderita dan keluargnya.

Patogenesis :
  • Belum diketahui
  • Sebagian besar penderita ditemukan riwayat stigmata atopi (asma bronkial, rinitis alergik, konjungtivitis alergik, dermatitits atopik) dalam keluarganya.
  • Juga ditemukan peningkatan jumlah Ig-E dalam serum.
  • Individu dengan kondisi atopi lebih mudah bereaksi terhadap antigen lingkungan (makanan dan inhalan), menimbulkan sensitisasi tipe dadakan / alergi anafilaksis (reaksi alergi tipe 1).
  • Rasa gatal (pruritus) dan reaktivitas kulit yang kuat merupakan tanda penting pada dermatitis atopik.
Diagnosis :
  • Sangat gatal - stigma atopi - bersifat krnonis residif
  • Umur 2 bulan - 2 tahun, 4- 10 tahun dan di atas 12 tahun.
  • Simetris dan bilateral pada pipi, fossa kubiti dan poplitea.
  • Effloresensi : Polimorf (eritema, papel, vesikel, erosi, ekskoriasi, skuama dan krusta)
Diagnosis Banding :
  • Dermatitis seboroik
  • Dermatitis kontak
  • Dermatitis numularis
  • Sindrom wiskot-aldrich
  • Darier disease
Pemeriksaan Penunjang :
  • Prick test (tes tusuk menggunakan alergen hirup dan alergen makanan)
  • Kadar Ig-E total da Ig-E spesifik berdasarkan hasil prick test.
Konsultasi :
  • Bagian THT dan Interna
Perawatan :
  • Rawat jalan poliklinik
Terapi :
  • Hindari faktor penyebab eksaserbasi : perubahan suhu yang mendadak, sering menggunakan sabun, pakaian wool terlalu ketat, garukan keras, faktor emosi, iklim, diet (susu, telur, gandum).
  • Sistemik :
    1. Antihistamin (sebagai anti pruritus dan sedasi) :
      • Difenhidramin HCl secara i.m 10-20 mg/dosis, 3 kali per/hari sedangkan dosis untuk anak 0,5 mg/kgBB/dosis, 3 kali/hari.
      • Klorfeniramin maleat dengan dosis 3-4 mg/dosis sebanyak 3x/hari. Dosis untuk anak 0,09 mg/kgBB/dosis, 3 kali sehari.
      • Prometasine HCl dengan dosis 25-50 mg/dosis, 2-3 kali sehari. Dosis bayi 2,5-5 mg/kgBB/hari, 1-2 kali/hari, sedangkan dosis anak 5-10 mg/kgBB 1-2 kali/hari. 
    2. Kortikosteroid
      Digunakan hanya pada kasus akut dan berat dan diberikan dalam jangka pendek lalu tappering off.
      • Prednison :   5- 10 mg/dosis, 2-3 kali per hari.
      • Deksametason : 0,5-1 mg/dosis, 2-3 kali per hari.
    3. Antibiotika
      • Eritromisin : 250-500 mg/dosis, 3-4 kali sehari, sedangkan dosis anak 15-25 mg/kgBB/dosis, 3 kali sehari.
  • Pengobatan Topikal: tergantung pada keadaan lesinya.
    1. Akut dan eksudatif : kompres larutan faali.
    2. Kering, non eksudatif : kortikosteroid topikal (hidrokortison, diflukortikolon valerat)
Lama Perawatan :
  • Tergantung pada proses penyembuhan luka
Penyulit :
  • Infeksi sekunder